Dibawah Kepemimpinan Trump, Banyak Orang Ragukan Hubungan Cina-AS

BEIJING, JIA XIANG – Terpilihnya Donald Trump  menjadi presiden Amerika Serikat menimbulkan munculnya reaksi dan pendapat yang berbeda di kalangan pengamat di Cina dan Amerika sendiri.

Perbedaan pendapat ini dilatarbelakangi oleh pandangan yang menganggap Trump tidak memiliki pengalaman di bidang pemerintahan.

Jean Cockroft, dosen Ilmu Politik pada Universitas Southwest, Beijing, Cina, Rabu (9/11/16) di Kedutaan Besar AS di Beijing, usai menyaksikan pelaksanaan pemilu Selasa (8/11/16) malam  langsung dari AS, menduga bahwa hubungan Cina-AS akan menjadi lebih sulit di bawah kepemimpinan Trump.

Hal senada juga diungkapkan oleh Thomas Schaller, guru besar ilmu politik, Universitas Maryland. Menurut Schaller, kebijakan hubungan AS-Cina akan sangat berbeda di bawah kepemimpinan Trump, dibanding Hillary Clinton.

“Saya harap Trump bisa sedikit lebih agresif dibidang perjanjian dagang. Hubungan dagang akan sangat berbeda bukan hanya dari tradisi Obama, tetapi juga berbeda dengan tradisi  kebijakan Partai Republik, termasuk pemerintahan Presiden Bush,” ungkap Schaller.

Sementara di bidang kerjasama mengatasi perubahan iklim, tampaknya juga mengalami ketidakpastian. Apalagi tahun 2012 dalam Tweet-nya Trump pernah mengatakan bawah kebojakan pemanasan global diciptakan oleh dan untuk Cina. Tujuannya supaya industri manufaktur AS tidak kompetitif.

Yang menjadi persoalan, ujar Cockroft, seberapa besar ucapan-ucapan Trump bisa terlaksana, sebab kongres dan di partainya sendiri sudah terjadi perpecahan.

Tetapi bagi Zhang Wei, guru besar ilmu politik dan hukum, Universitas Beijing menegaskan, wajar saja kebijakannya beda dengan seorang politisi tradisional sebab dia  adalah seorang pengusaha.[JX/Chinadaily/Eka]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here