Antara Rezeki dan Malapetaka

Matahari baru saja keluar dari peraduannya, namun Kota Bagansiapiapi,Kabupaten Rokan Hilir, Riau, sudah menampakkan geliatnya. Mulai pukul 6.00 WIB, warga Bagansiapiapi sudah sibuk dengan aktivitas harian masing-masing.
Saat Jia Xiang Hometown menelusuri sejumlah jalan di kota pelabuhan itu, banyak warga setempat yang sebagian besar etnis Tionghoa sudah berkumpul di tepi Jalan Perdagangan untuk sarapan pagi.
Mereka menikmati menu kesukaan masing-masing sambil duduk berkelompok mengelilingi meja kecil di emperan toko.  Sambil sarapan merekapun berkelakar dan canda tawa. “Dari mana mas”, sapa pemilik kedai makan saat Jia Xiang Hometown masuk ke situ. “Jakarta,” kemudian pembicaraan pun berlanjut soal menu sarapan.
Menelusuri Kota Bagansiapiapi di bulan Juni memang punya nuansa tersendiri. Di Jalan Aman, Bagansiapiapi, Kim Lo (67 tahun) dan Acuan (40) tampak tengah sibuk mengerjakan Tongkang yang akan digunakan dalam prosesi bakar tongkang sebagai peringatan atas dewa laut Ki Ong Yan dan Tai Su Ong yang telah menuntun leluhur ketika melarikan diri dari amukan perang di Tiongkok ratusan tahun silam dan tiba dengan selamat di Kota Bagansiapiapi. Selain itu peringatan dan bersyukur kepada dewa ini juga mempunyai makna dua sisi yang saling berbeda, antara baik dan buruk, suka dan duka, serta rezeki dan malapetaka.
Kim Lo bertanggungjawab membangun konstruksi tongkang, sedangkan Acuan bertugas membuat aksesoris perahu dari kertas dan kain. Sambil menyetel tali layar tongkang, Kim Lo mengatakan kepada Jia Xiang Hometown bahwa tongkang itu terbuat dari kayu meranti biasa dengan panjang 8,20 meter, lebar 2 meter, dan tinggi 1,5 meter. Sedangkan dua tiang layar tinggi masing-masing 4,8 meter.
Bagi warga Tionghoa Bagansiapiapi, dua buah tiang itulah yang sangat penting, sebab saat dibakar, bila tiang  itu jatuhnya menghadap ke darat, maka mereka meyakini bahwa rezeki sepanjang tahun lebih banyak berasal dari darat. Dan jika jatuh menghadap ke laut maka rezeki banyak berasal dari laut.
“Tongkang ini kami kerjakan selama 26 hari dan sebelum dibakar akan diarak dengan diikuti ribuan orang. Warga akan mengusung tongkang ini bergantian,” ucap Kim dengan aksen Mandarin yang kental.
Sedangkan Acuan menambahkan bahwa dia memerlukan tak kurang dari 100 lembar kertas warna warni dan satu gulung besar kain katun untuk mendekorasi tongkang tersebut. “Gambar-gambar ini bermakna hal-hal yang baik, pelindung, dan rezeki,” ujar Acuan sambil meniup debu dari sela-sela papan perahu.

Mancanegara
Jelang acara bakar tongkang, kota Bagansiapiapi mulai semarak dengan aneka persiapan. Sejak memasuki gerbang kota, di jalan-jalan dan rumah penduduk sudah penuh dengan hiasan berciri khas pecinan. Hal itu juga memperlihatkan masyarakat Bagansiapiapi, siap merayakan Festival Bakar Tongkang hari Senin (24/6/13) di kawasan Jalan Kelenteng, Bagansiapiapi. Replika Tongkang itu pun  siap diusung.
Sementara di beberapa sudut kota di sekitar kelenteng berdiri panggung untuk hiburan musik dan ratusan dupa jumbo yang akan dinyalakan mulai Sabtu (23/6/13) malam. Masih di sekitar kelenteng juga terdapat tenda-tenda untuk pasar murah.
Becak motor yang dihias pun berseliweran jalan-jalan di Kota Bagansiapiapi. Lalu-lalang mengangkut penumpang.  “Di sini tak ada angkot bang, karena kota ini memang tak cocok pakai angkot. Di sini paling ada becak motor dan ojeg sepeda motor,” ujar Fico pemuda setempat.
Sementara Willy pemilik toko mie di depan Gereja GIM di Jalan Aman mengatakan, keramaian hanya berlangsung selama acara bakar tongkang, setelah itu bagansiapiapi sepi kembali, dan tak banyak yang berbelanja. “Kalau hari -hari biasa, mulai jam delapan malam di sini kayak hutan mas. Dikit kali orang yang makan,” ujar Willy.
Pengamatan Jia Xiang Hometown selama meliput acara bakar tongkang ini, semua hotel dan penginapan di Kota Bagansiapiapi sudah penuh dipesan warga Tionghoa. Menurut Sugeng, pegawai Wisma Melati di Jalan Utama, yang datang ke Festival Bakar Tongkang bukan saja warga setempat,  tapi dari beberapa wilayah di Indonesia termasuk dari luar negeri seperti Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Taiwan dan Thailand.
Perjalanan menuju kota Bagansiapiapi memang cukup  menantang. Pasalnya saat Jia Xiang Hometown bertolak dari Kota Pekanbaru Riau menuju Bagansiapiapi, Jumat (21/6/13),   harus menyewa taksi karena bus dan mobil travel sudah tidak beroperasi karena sudah terlalu sore.
“Kita akan lama sampai ke Bagan karena banyak jalan yang rusak dan lagi diperbaiki,” ucap Sudirman, supir taksi carteran itu yang mengantar Jia Xiang Hometown.
Dari Kota Pekanbaru, Jia Xiang Hometown setidaknya melewati beberapa wilayah seperti Minas, Duri,  dan Ujung Tanjung. Kemudin dari Ujung Tanjung baru berbelok menuju Bagansiapiapi yang berjarak kurang lebih 70 km. Sementara jarak dari Pekanbaru ke Bagansiapiapi sekitar 300 km.
Untuk kondisi jalan normal, menurut Sudirman, dari Pekanbaru ke Bagansiapapi bisa ditempuh antara 6-7 jam. Namun perjalanan Jia Xiang Hometown memakan waktu 11 jam.
Setiaknya ada  4 lokasi yang memberlakukan sisitem buka tutup jalan karena satu jalur jalan harus digunakan bergantian oleh kendaraan dari kedua arah yang berlawanan.
Belum lagi kemacetan di sejumlah pom bensin, karena antrean panjang kendaraan yang berebut bahan bakar murah sebelum harga BBM naik mulai pukul 24.00 WIB. Sementara dua mobil  truk pengangkut alat berat dan kayu gelondongan yang terguling makin menambah kemacetan. [JX/W1/D9]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here