Apa Manfaat BDF Bagi Rakyat ?

Jia Xiang – BDF ke-5 tahun lalu hadir Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad, Perdana Menteri Australia, Julia Gillard,  Presiden Korea Selatan Lee Myung-bak,  Presiden Afghanistan, Hamid Karsai, dan Perdana Menteri Turki, Recep Tayyip-Erdogan.

Bagaimana tahun ini, selain Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, selaku tuan rumah, tokoh lain hanya Sultan Brunei Darussalam Hassanal Bolkiah dan Perdana Menteri Timor Leste, Xanana Gusmao. Lalu sebenarnya apa yang bisa diharapkan pemerintah Indonesia dari forum, yang tahun ini tampaknya kurang pamor di kalangan para petinggi negara lainnya.

Dari penyelenggaraan yang sudah keenam kalinya ini, tampaknya Indonesia masih tetap ingin menjadikan forum ini sebagai jalur untuk membicarakan dan memperjuangkan  demokrasi di banyak negara, tidak terkecuali Asia Pasifik. Penyelenggaraan BDF selama ini memang menggunakan pendekatan untuk membangun kepercayaan dan kerja sama soal kemajuan demokrasi. Tapi tahun ini mulai dikembangkan  konfederasi demokrasi melalui bertukar pikiran.

Karena itu forum ini pun menggandeng Institute for Peace and Democracy, yang akan menindaklanjuti pembahasan,  kemudian bekerjasama dalam bentuk  misalnya pelatihan dan mengirim orang untuk pelaksanaan pemilu. Kehadiran institut ini memberikan semangat baru bagi Indonesia supaya bisa lebih mengembangkan dialog dan kerjasama dengan negara atau pihak lain.

Dengan kata lain, seperti dikatakan Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa bahwa BDF ajang kesempatan antarnegara saling bertukar pandangan soal demokasi.  Yang perlu disoroti adalah forum ini sangat bermanfaat sebab tak ada satu negara yang hadir itu menganggap lebih unggul dari peserta lainnya.

Jadi, bagi Indonesia  BDF selain terus memperjuangkan demokrasi di banyak negara, juga ingin  memanfaatkan forum ini untuk menciptakan ASEAN 2015 khususnya  di sektor politik dan keamanan. Karena itu, hasil dua hari ini  akan ditindaklanjuti sebuah tim, yang menganalisis dan mengindentifikasi hal penting supaya bisa  ditindaklanjuti.

Selain itu, Indonesia menilai bahwa di BDF ini ada peluang untuk saling saling belajar dan bertukar pengalaman. Bahkan semua pihak tidak terkecuali pemerintah dapat merefleksi, mengoreksi sekaligus membenahi praktek demokrasi di negara masing-masing.

Hal penting lainnya adalah BDF ini bisa menumbuhkan tekad untuk menciptakan hubungan sosial yang kuat, sehingga keutuhan hidup bermasyarakat dan berbangsa di negeri ini tetap terjaga. Artinya pluralitas yang tumbuh sejak dulu, pun dapat dilestarikan dan menjadi ciri khas negeri ini.

Satu hal lain yang menarik adalah  forum di Bali itu diharapkan munculnya kaum muda yang membawa pembaruan demokrasi Indonesia.  Yang pasti pembaruan demokrasi ini harus bisa bermanfaat bagi masyarakat, artinya forum seperti ini BDF ini harus pula berdampak positif  langsung bagi masyarakat.

Percuma kita berbicara forum internasional di dalam negeri sendiri, tanpa manfaat yang dirasakan oleh warganya. Dengan kata lain, forum ini hanya akan menjadi isapan jempol belaka apabila hanya bentuk pencitraan semata. Kalau pencitraan, apa kurang puas dengan keberhasilan di KTT APEC yang sudah melambungkan nama Indonesia, walaupun hasilnya masih harus dilihat lagi. Lalu apa yang dirasakan rakyatnya?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here