Apa yang Lebih Penting?

Para politisi di negeri ini beberapa minggu belakangan ini disibukkan dengan berbagai cerita dan kisah tentang menurut banyak pihak “seru” dan “menarik”. Kisah tentang apa?  Tentunya soal pemilihan gubernur DKI, partai pendukung, kemudian beberapa hari ini tentang parliamentary threshold dan perombakan kabinet.

Semua itu, semata-mata hanya memikirkan kepentingan masing-masing pihak. Tentang kekuasaan, dapat jatah berapa partai kita? Dapat menteri apa?  Menteri apa dan siapa yang diganti? Siapa calon lawan Ahok? Ahok didukung PDIP apa tidak? Siapa calon yang diusung PDIP?  Ahok maju lewat jalur apa, partai atau independen?

Pertanyaan-pertanyaan itu menjadi cermin berita-berita  yang mencuat ke permukaan di berbagai media. Yang tidak heran lagi, kasak-kusuk para politisi pun terendus media. Karena itu, beritanya pun menjadi begitu ramai dan menarik.

Berita-berita yang bernuansa politik ini ternyata lebih banyak dibicarakan oleh para politisi dan orang-orang  “penting” partai  ketimbang  membahas kasus vaksin palsu atau penderita obesitas yang dialami Rizki Ramadan (11 tahun), bocah asal Palembang, Sumatera Selatan,  dan Arya Permana (10) dari Karawang, Jawa Barat.

Kasus vaksin, bocah obesitas ini sebenarnya tidak kalah penting dan berbobotnya dengan sekadar calon gubernur, Pemilu atau lainnya.  Tetapi mengapa persoalan-persoalan bernuansa politik ini selalu lebih banyak mencuat ketimbang yang menyangkut masyarakat.

Kasus vaksin palsu,  yang kenyataannya sudah jelas-jelas disuntikan kepada banyak bocah yang notebene adalah generasi penerus. Dengan kata lain, kasus vaksin palsu tidak kalah penting dengan sekadar berita pemilihan gubernur DKI Jakarta, perombakan kabinet  atau lainnya.

Hanya persoalannya, mau apa tidak para petinggi partai, yang katanya berjuang untuk kepentingan rakyat, membicarakan secara tuntas persoalan-pesoalan seperti vaksin palsu dan kesehatan masyarakat yang contohnya sudah jelas kasus obesitas tersebut.  Ketidakmampuan orangtua, ketidakberdayaan masyarakat memunculkan kasus-kasus tersebut, perlu mendapat dukungan. Keinginan masyarakat  menyelesaikan pelanggaran vaksin ini harus didukung penuh.

Memang persoalan ini bukan hanya kepentingan mereka yang mengalaminya saja, tetapi ini adalah kasus yang bersifat nasional. Diperlukan dukungan dan perhatian dari semua komponen masyarakat tanpa kecuali. Artinya, pihak-pihak partai pun memiliki beban untuk membantu menyelesaikan persoalan di masyarakat itu.

Persoalan yang dihadapi masyarakat  jauh lebih penting daripada sekadar membahas kepentingan partai, yang ujung-ujungnya untuk diri sendiri.

Tapi bila direnungkan, mengapa selalu dan selalu terjadi seperti sekarang ini. Banyak petinggi partai dan partainya lebih senang membahas kepentingan mereka, ketimbang membuat masyarakat lebih makmur dan sehat.

Inilah “penyakit” yang terjadi negeri ini. Apalagi di masa-masa Pemilu, baik itu kepala negara, kepala daerah atau anggota legislatif. Rakyat menjadi yang utama, semua janji diumbar, tapi pelaksanaannya nol besar.  Di masa itu, rakyat diutamakan, begitu menang rakyat pun ditinggalkan.

Di masa Pemilu, ada bencana atau peristiwa besar, ramai-ramai membuka posko bantuan. Tenda partai ini, partai itu ada. Bantuan mengalir lancar. Tapi setelah itu, ada bencana atau pun tidak, tiada pula perhatian partai-partai tersebut. Yang mereka pikirkan justru kepentingan masing-masing.

Tidak heran, bila kenyataan  sekarang ini yang kita hadapi. Tiada yang peduli terhadap Rizki dan Arya. Adakah bantuan untuk mereka? Adakah pernyataan sedikit pun bahwa “kami dari partai ini atau itu membantu merawat Rizki atau  Arya mengobati penyakit mereka”.

Apakah pola dan cara berpikir para politisi atau petinggi partai tidak peduli dengan persoalan-persoalan di masyarakat? Sungguh kasihan masyarakat negeri ini? Ada persoalan tapi harus menyelesaikannya sendiri, seakan-akan hidup “menumpang” di tanah orang. Sudah diberi tempat tinggal, tapi persoalan pribadi harus diselesaikan sendiri.

Akan jadi apa negeri ini bila tidak ada kesadaran dari orang yang memiliki “kemampuan” membantu mereka yang tidak berdaya. Karena itu, berpikir hal-hal yang mengedepankan kepentingan rakyat atau warga negeri ini jauh lebih penting ketimbang kepentingan sesaat yang ada sekarang ini. Semua bukan hanya harus bisa, tetapi harus mau meluangkan waktu untuk memperhatikan sesama.

Mereka, rakyat kita, warga kita, bukan sekadar alat, tetapi mitra yang sangat bernilai untuk memajukan negeri ini. Tanpa rakyat, para petinggi negeri ini tidak mungkin bisa mencapai semua program pembangunan.  Tanpa rakyat yang ikut membangun negeri ini, tidak mungkin negeri ini maju dan mencapai cita-cita bersama. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here