AS Desak Tiongkok Hentikan Praktek Pengambilan Organ Tubuh

Organ manusia yang siap di transplantasikan. (Foto: JX/Ist)

WASHINGTON, JIA XIANG – DPR AS mensahkan resolusi yang mendesak Tiongkok agar menghentikan pengambilan organ tubuh para tahanan politik, agama dan keyakinan lainnya yang dianggap menentang pemerintah Beijing.Sebuah sub komisi gabungan Amerika Kamis (23/6/16) minggu lalu mendengar kesaksian mengenai perdagangan organ ilegal, hanya dua minggu setelah DPR mensahkan sebuah resolusi yang mendesak Tiongkok agar menghentikan pengambilan organ tubuh para tahanan politik, agama dan keyakinan lainnya yang dianggap menentang pemerintah.
Bersaksi di hadapan anggota Kongres, Christopher Smith dan Dana Rohrabacher, para penyelidik menyampaikan temuan dalam dokumen setebal 798 halaman yang diterbitkan hari Rabu. Laporan itu mengatakan Partai Komunis Tiongkok terlibat dalam pembunuhan masal, menyiksa aktivis yang dipenjarakan terutama pengikut Falun Gong dan etnis Uighur, Tibet dan sebagian warga Kristen dari gereja-gereja yang tidak diakui pemerintah untuk mendapat organ guna transplantasi medis.
Menurut laporan baru itu, pengambilan organ di Tiongkok setiap tahunnya jauh melampau perkiraan resmi pemerintah yaitu 10 ribu prosedur pembedahan setiap tahunnya.
David Matas seorang pengacara HAM dari Kanada dan salah seorang penyusun laporan itu mengungkapkan, “Berapa besar transplantasi organ di Tiongkok ketika kita jumlahkan semua data dari pusat-pusat transplantasi dan RS? Bukannya 10 ribu per tahun, kami memperkirakan berkisar antara 60 ribu sampai 100 ribu transplantasi per tahun, dengan penekanan pada jumlah yang lebih besar.”
Bersama rekan penyusun laporan itu, David Kilgore, mantan diplomat senior Kanada, kesaksian mereka juga diikuti oleh wartawan investigasi Ethan Gutmann, Profesor Francis Delmonico dari Fakultas Kedokteran Universitas Harvard dan Charles Lee, pengikut Falun Gong yang mengasingkan diri.
“Kita ingin menegaskan kepada semua pihak, bahwa transplantasi organ jenis apapun harus ditangani secara sangat hati-hati khususnya di negara seperti Tiongkok,” kata Rohrabacher kepada VOA setelah sidang itu. Dia menyebut kepemimpinan komunis “sangat menekan, ini digunakan bukan hanya sebagai cara mendapatkan uang yang tidak bermoral tapi juga untuk menekan rakyat mereka,” paparnya.
“Perdagangan organ adalah tindakan yang tidak beradab. Seperti Nazi dan terjadi saat ini di banyak bagian dunia, termasuk khususnya di China,” kata Smith kepada VOA. “Keprihatinan terbesar adalah pejabat militer mendapat uang dalam jumlah besar dengan mengeksekusi pengikut Falun Gong dan tahanan politik, agama serta keyakinan lainnya yang bertentangan dengan pemerintah, untuk mengambil organ mereka. Ini harus dihentikan dan diungkapkan.”
Katanya, dia tidak bisa membayangkan seperti apa rasanya menjadi tahanan yang dipenjara dan mengetahui bahwa besok jam 08.00, pankreas atau hati kita diambil kemudian kita akan mati.”
Tanggal 13 Juni lalu, Kongres AS dengan suara bulat mensahkan resolusi yang mendesak Tiongkok untuk menghentikan pengambilan organ para tahanan politik, agama dan keyakinan lainnya dan mengakhiri hukuman terhadap Falun Gong yang sudah berlangsung 17 tahun.
Resolusi itu juga melarang Departemen LN Amerika Serikat mengeluarkan visa bagi mereka di Tiongkok dan negara-negara lain yang bertanggung jawab melakukan pengambilan organ manusia. RUU itu juga mewajibkan laporan dipatuhinya kebijakan setiap tahun kepada Kongres.
Sementara itu, Juru Bicara Kedutaan Besar Tiongkok, Zhu Haiquan, menanggapi tuduhan-tuduhan itu sebagai rekayasa. Dia juga menyebut Falun Gong sebuah gerakan anti Tiongkok dan mendesak Kongres menarik dukungannya bagi praktek spiritual yang menggabungkan meditasi dan latihan qigong dengan falsafah moral yang berpusat pada prinsip-prinsip kebenaran dan kasih sayang. [JX/Eka]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here