AS Khawatir Pamor AIIB Makin Besar

Penandatanganan AIIB

BEIJING, JIA XIANG – Sejumlah 44 negara termasuk beberapa negara besar telah mengajukan diri bergabung dalam Asia Infrastruktur Investment Bank (AIIB) yang diusulkan oleh Tiongkok. Penutupan tenggat waktu masuk AIIB pada 31 Maret 2015 lalu, namun hingga kini hanya Amerika Serikat yang tetap menolak masuk bank investasi itu.
Dalam sebuah tulisan yang dimuat people.cn disebutkan bahwa pemerintah Obama tampaknya memperlihatkan bahwa mereka belum siap bergabung ke dalam AIIB, khususnya menjalin hubungan yang lebih rasional dengan Tiongkok. Tiongkok sekarang menjadi negara ekonomi terbesar di dunia. Sementara itu, Kemitraan Perdagangan dan Investasi dan Kemitraan Trans-Pasifik (Trade and Investment Partnership/TTIP and the Trans-Pacific Partnership/TTP) masih menjadi prioritas bagi pemerintahan Obama.
TTIP mengusulkan kesepakatan perdagangan bebas antara Uni Eropa dan Amerika Serikat (AS). TTIP akan memastikan perdagangan bebas antar dua ekonomi terbesar dunia – yang secara bersama-sama meliputi sepertiga perdagangan barang dunia dan separuh GDP dunia. TTIP juga diharapkan mengurangi perselisihan perdagangan dan investasi antara AS dan mitra negara-negara berkembang, serta memungkinkan Barat beroperasi lebih besar dalam sistem ekonomi global.
Kemungkinan negara-negara ekonomi baru akan dipaksa menjalankan sistem dengan standar tinggi seperti yang diatur dalam TTIP.
Sementara itu, dalam proposal seperti inisiatif Belt and Road, Silk Road Fund, dan AIIB, Tiongkok akan fokus pada peningkatan infrastruktur dan intra-konektivitas dan intra-komunikasi dengan sesama anggota. Dengan kata lain, tujuan Tiongkok adalah memantapkan perluasan komunitas ekonomi sekaligus meningkatkan hubungan dengan tetangga. Inisiatif ini meningkatkan intra-konektivitas antara Asia, Eropa dan Amerika Latin dan menantang dominasi tatanan politik dan ekonomi internasional yang berpusat pada minyak dan dolar AS.
Strategi diplomatik Tiongkok mencerminkan pengaruh ekonominya. Di sinilah pemerintahan Obama ingin mengimbangi dampak naiknya pamor Tiongkok dengan berbagai cara seperti meningkatkan pangsa suara Tiongkok di Dana Moneter Internasional, Bank Dunia dan lembaga internasional lainnya. Namun ide-ide ini akan sulit mendapatkan persetujuan dari Kongres AS, sebab cara itu dianggap justru dapat melemahkan dominasi ekonomi AS.
Karena itu, tampaknya pemerintahan Obama tidak memiliki opsi lain, kecuali mempengaruhi negara sahabatnya untuk tidak bergabung ke dalam AIIB, jika AS ingin menghancurkan pengaruh ekonomi Tiongkok yang tengah “naik daun”. Tetapi kenyataannya terjadi kekeliruan dalam kebijakan luar negeri pemerintah AS yaitu banyak negara mitra AS yang mendukung AIIB.
Ketika Menteri Keuangan AS, Jack Lew mengunjungi Tiongkok beberapa waktu lalu, negeri tirai bambu itu ingin AS menilai AIIB sebagai organisasi pendukung bagi lembaga seperti Bank Pembangunan Asia dan institusi internasional lainnya dan memberikan keuntungan melalui kerjasama win-win. [JX/people.cn/Eka]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here