Australia dan Selandia Baru Ingin Pertahankan TPP

Presiden Barack Obama memimpin rapat TPP di Lima, Peru, November 19, 2016. (Foto: JX/REUTERS)

CANBERRA, JIA XIANG – Australia dan Selandia Baru, Selasa (24/1/17) berharap bisa menyelamatkan Kemitraan Trans Pasifik (TPP) dengan membujuk Cina dan negara Asia lainnya untuk bergabung pada pakta itu setelah  Amerika Serikat menyatakan keluar dari kemitraan tersebut.

Sejauh ini Amerika Serikat telah menandatangani TPP, tetapi belum meratifikasinya.  TPP adalah pilar bagi mantan Presiden AS, Barack Obama untuk menancapkan kakinya di Asia. Sementara Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe menegaskan bahwa pakta itu merupakan mesin bagi reformasi ekonomi, sekaligus sebagai penangkal semakin “bersinarnya” Cina, yang tidak menjadi anggota TPP.

Presiden AS, Donald Trump membuktikan memenuhi janjinya  di masa kampanye  dengan menantangani  surat keputusan, Senin (23/1/17), yang menyatakan menarik diri dari kesepakatan TPP.

Menurut Perdana Menteri Australia, Malcolm Turnbull, dia telah membahas hal itu dengan Shinzo Abe, Perdana Menteri Selandia Baru Bill English dan Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong semalam tentang kemungkinan berlanjutnya TPP tanpa AS.

“Kehilangan AS dari TPP adalah kerugian besar, keadaan ini tidak perlu dipertanyakan lagi,” tegas Turnbull kepada wartawan di Canbera, Selasa. “Tetapi kita tidak pernah berpikir untuk keluar…sudah pasti ada peluang potensial bagi Cina untuk bergabung dengan TPP.”

Obama membingkai TPP tanpa Cina, sebagai upaya menetapkan kebijakan perdagangan Asia sebelum Beijing semakin unggul. TPP juga sebagai upaya AS memastikan kepemimpinan Ekonomi AS di kawasan Asia sebagai bagian dari  sumbu kekuatan di Asia.

Sebelumnya Cina sudah mengusulkan dibentuknya kemitraan tandingan yaitu  Daerah Perdagangan Bebas Asia Pasifik (FTAAP) dan mendapat simpatik Asia Tenggara yang didukung Kemitraan Ekonomi Komprihensif Regional (RCEP). [JX/Reuters.com/Eka]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here