Babak Baru Pulihkan Citra MK

Jia Xiang – Pemilihan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) usai sudah, dan Hamdan Zoelva terpilih menjadi Ketua MK yang baru periode 2013-2016, menggantikan Akil Mochtar yang diberhentikan dengan tidak hormat oleh Majelis Kehormatan Hakim MK.

Pemilihan ketua baru yang digelar pada Jumat (1/11/13) itu, merupakan buntut terseretnya Akil Mochtar dalam kasus hukum yang diduga menerima suap. Selain itu, pemilihan ketua baru ini dinilai “mendesak” oleh MK, lantaran citra mahkamah “penjaga” kontitusi anjlok ke titik nadir. Langkah ini pun menjadi babak baru pemulihan citra MK.

Prahara yang menimpa MK bermula dari kasus hukum yang menjerat Akil Mochtar ini memang menimbulkan beragam pendapat sumbang di tengah masyarakat. Belum lagi ditemukannya narkoba di ruangan Akil Mochtar yang sempat “disegel” Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), semakin membuat MK terpuruk. Kepercayaan masyarakat terhadap MK sebagai lembaga tinggi negara di bidang peradilan luluh lantak tak bersisa.

Tidak sedikit upaya dilakukan untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap MK sebagai lembaga judisial. Salah satunya dengan diterbitkannya Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Nomor 1 Tahun 2013 tentang MK. Sebagaimana diketahui substansi dari Perppu adalah menghidupkan lembaga kontrol dan tata cara rekrutmen hakim MK.

Perppu ini pun masih mengundang silang-pendapat di kalangan ahli dan pengamat hukum, dan kata akhirnya masih berada di tangan Dewan Perwakilan Rakyat yang punya hak “menguji” apakah Perppu diterima atau tidak nantinya.

Begitu juga dengan pemilihan ketua MK yang baru, dimaksudkan untuk “mengembalikan” atau paling tidak memperbaiki citra MK. Pertanyaannya apakah dengan terpilihnya ketua baru itu, citra dan kredibilitas MK bisa kembali seperti sedia kala, sebelum kasus Akil Mochtar mencuat?
Kita tentu berharap seperti itu, MK kembali mendapat “kepercayaan” masyarakat. Sebab jika citra MK terpuruk terus-menerus, dampaknya bukan main-main bagi keberlangsungan negara dan bangsa. Di pundak MK lah keberlangsungan negara dan bangsa ini bisa terjaga. Lebih-lebih jika dikaitkan dengan tugasnya sebagai penjaga konstitusi, sekaligus sebagai “pengadil” bila terjadi sengketa Pemilu dan Pilkada.

Tugas MK ini sejatinya merupakan menjaga “rel” negara agar suksesi kepemimpinan nasional maupun daerah, bisa berlangsung demokratis dan bersih. Selain itu terjaganya nilai-nilai Pancasila sebagai dasar negara yang tertulis tegas dalam konstitusi, hanyalah MK yang punya kedigdayaan untuk merawat serta menjaganya.

Kita berharap proses hukum yang dilakukan terhadap Akil Mochtar, tak lagi berimbas buruk kepada MK. Meskipun ada juga masyarakat berpendapat, langkah MK memilih ketua pengganti Akil Mochtar bisa memperbesar resiko runtuhnya kepercayaan publik terhadap lembaga tinggi negara ini.
Argumentasinya adalah, saat ini Akil Mochtar masih dalam proses pemeriksaan di KPK terkait kasus dugaan suap sengketa Pilkada.  Dan itu tidak menutup kemungkinan di pengadilan nanti, Akil atau tersangka lainnya dan saksi-saksi “bernyanyi” menyebut keterlibatan hakim-hakim konstitusi lainnya dalam perkara suap.

Tapi, kita tentu tidak boleh skeptis akan kembalinya kewibawaan MK. Kita tentu berharap, seperti juga harapan Ketua MK terpilih, Hamdan Zoelva yang berkata, hakim konstitusi harus bisa menjaga kehormatan. Selain itu Hamdan juga berkata, independisi hakim harus tetap bisa dikontrol oleh integritas dan profesionalitas.

Jadi kini, kita harus memberi kesempatan kepada Ketua MK yang baru dan hakim konstitusi yang tersisa, untuk membuktikan diri sebagai hakim-hakim konstitusi yang teruji dan terpuji. Masyarakat tak ingin adalagi prahara yang “mengguncang” sendi-sendi negara, lantaran hakim-hakim MK sebagai penjaga konstitusi, justru tidak konstitusional lantaran melangar hukum.

Kita berharap tidak ada lagi hakim konstitusi yang dipecat dengan tidak hormat, karena melanggar kode etik sebagaimana Akil Mochtar yang dipecat dengan tidak hormat karena terbukti melanggar kode etik hakim konstitusi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here