Balas Budi (1)

Tentara di era Dinasti Tang. (Foto: JX/Ist)

BEIJING, JIA XIANG – “Tak seorang pun sempurna. Setiap orang membuat kesalahan”. Sekalipun orang-orang terkenal yang luar biasa tidak kebal terhadap perbuatan yang salah. Jadi, sungguh membingungkan jika seseorang tidak bisa mentoleransi kesalahan orang lain, demikian sebuah ungkapan Tiongkok kuno.Jika seseorang selalu menyalahkan orang lain, tetapi dirinya, bila ada pertikaian, dia justru menciptakan musuh. Karena itu, hampir tak mungkin mendapat teman jika seseorang satu tidak memiliki kebajikan mengampuni dan kemurahan hati. Dan tampaknya sebaliknya orang lain pun akan cenderung kurang memiliki sikap memaafkan atau bermurah hati terhadap Anda.
Beberapa tokoh di era Dinasti Tang (618-907 M) memiliki cerita yaitu mengatasi dendam mereka dengan kemurahan hati, seperti dalam kisah Du Chuke.
Du Chuke menjadi anggota tentara pimpinan Wang Shichong, bersama Du Yan. Prospek Du Chuke untuk naik jabatan tampaknya kecil sekali. Namun justru Wang, yang namanya telah menjadi terkenal setelah menumbangkan kaisar terakhir Dinasti Sui (581-618 M), dikepung oleh tentara Tang dari sebelah barat.
Paman Du Yan, justru membenci Du Chuke dan kakak-kakanya. Kakak tertua Du Chuke, dibunuh atas perintah Wang Shichong, karena Du Yan membencinya. Du Chuke sendiri juga dipenjarakan, sampai-sampai hampir mati kepalaran di dalam penjara. Namun dia tidak menyimpan rasa dendam pada pamannya.
Setelah Jenderal Li Shimin (598-649 M) dari tentara Tang, mengalahkan Wang Shichong, Du Yan dihukum mati, karena berpihak kepada Wang Shichong.
Sementara kakak Du Chuke lainnya, Du Ruhui, menjadi penasehat senior Li Shimin. Du Chuke pun menemui kakaknya dan memohon padanya, dengan berlinangan air mata, supaya dia bisa menyelamatkan nyawa pamannya. Awalnya Du Ruhui menolak permintaan itu.
“Paman kita sudah membunuh kakak tertua kita,” ujar Du Chuke. “Jika Anda membunuhnya, itu artinya akan mempercepat berakhirnya garis keluarga kita. Menyedihkan.”
Du Ruhui pun tergerak mendengar ucapan adiknya. Akhirnya permintaan Du Ruhui dikabulkan, dan sekaligus membalas kebencian pamannya dengan kemurahan hati. Atas permintaan Du Ruhui, Li Shimin membiarkan Du Yan hidup.
Setelah dibebaskan, Du Yan bergabung dengan pasukan Pangeran Li Jiancheng, yang adalah kakak tertua Li Shimin dan sekaligus musunya. Fang Xuanling, seorang penasehat tinggi Li Shimin, pun mengkhawatirkan adanya ancaman Li Jiancheng jika dia merekrut Du Yan. Karena itu Dang menyarankan Li Shimin untuk menugaskan Du Yan di posisi bisa memanfaatkan keahlian dengan baik. [bersambung]

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here