Bali Jajaki Kerja Sama dengan Jepang Tanggulangi Rabies

Gubernur Bali Made Mangku Pastika menerima drh Tokuda dan drh Honda dari Jepang. (Foto: JX/Dearna)

DENPASAR, JIA XIANG – Bali menjajaki kerja sama dengan Perfektur Kumamoto, Jepang, untuk menanggulangi penyakit rabies. Hal itu terungkap dalam pertemuan tim ahli rabies dari Kumamoto dengan Gubernur Bali Made Mangku Pastika, Kamis (12/1/17).

Dalam pertemuan yang berlangsung di ruang kerja Gubernur Bali, rombongan dari Kumamoto dipimpin oleh Drh Tokuda yang juga pemilik Ryunosuke Animal Hospital Kumamoto yang didampingi juga oleh Drh Honda serta perawat Okawa dan perawat Shiroishi. Kedatangan tim ahli rabies dari Kumamoto ini merupakan tindak lanjut kunjungan Gubernur Pastika ke Kumamoto, Nopember 2016 lalu.

Menurut Tokuda, Kumamoto dan Bali memiliki kemiripan, yaitu berupa pulau dan menghadapi permasalahan dengan perkembangan populasi hewan yang kurang terkendali. “Jepang menghadapi permasalahan dengan populasi kucing yang pernah membludak, begitu juga dengan populasi anjing di Bali. Mengingat keberhasilan Jepang dalam menanggulangi permasalahan itu, kami berpendapat perlu membagi pengalaman kepada Bali,” jelasnya.

Mengenai permasalahan rabies di Bali, pihaknya mengaku akan mempelajari terlebih dahulu. Ia menekankan diperlukannya satu aturan yang tegas tentang cara penanggulangan rabies dan bisa diterima oleh semua pihak.

“Pengalaman kami di Jepang langkah yang paling efektif adalah tangkap hewan, vaksin, sterilisasi lalu lepas,semua pihak bekerja keras sehingga hingga bisa memvaksin mensteril kucing sebanyak 1.800 ekor per minggu, sehingga pekerjaan ini bisa tuntas selama dua tahun. Dan saya yakin Bali juga bisa,” jelasnya.

Apalagi, tambahnya, masalah rabies di Bali saat ini tengah disoroti juga oleh dokter-dokter hewan seluruh dunia, sehingga jika berhasil, Bali akan menjadi role model bagi penangggulangan hewan liar di berbagai negara.

Untuk memudahkan rencana ini, maka ia menyaranan Gubernur untuk merangkul semua pihak baik swasta, LSM hingga msyarakat.

Menanggapi rencana itu, Gubernur Pastika sangat mengapresiasi perhatian pemerintah Jepang terhadap Bali. Mengenai rencana mengendalikan populasi anjing liar di Bali, ia sangat mendukung. Pastika juga menambahkan ingin meniru keberhasilan Jepang dalam mengendalikan populasi kucing liar.

Mengenai sterilisasi anjing liar, ia menyatakan sangat setuju, sehingga dia akan merangkul semua dokter hewan di Bali demi memuluskan rencana itu.

“Namun, kami akan tetap mempertahankan langkah eliminasi bagi anjing yang memang terindikasi suspect rabies dan bisa membahayakan nyawa orang lain,” tuturnya.

Ia berpendapat, gigitan satu anjing rabies selain berbahaya bisa memberikan berbagai dampak. Seperti contohnya gigitan ke wisatawan, imbuhnya, yang akan berdampak negatif terhadap perekonomian Bali. Jika sudah ditemukan langkah yang paling tepat, Gubernur Pastika menyatakan akan bekerja sepenuhnya terutama dalam hal penganggaran.

“Saya bisa anggarkan di APBD Pemprov, bahkan karena ini masalah krusial saya akan meminta Pusat dan Kabupaten/Kota untuk ikut membiayai,” jelasnya. Bahkan untuk memuluskan rencana tersebut, Pastika berjanji akan membantu mengurus administrasi agar peralatan dan obat-obatan bagi anjing liar dari Jepang bisa masuk dengan mudah ke Indonesia. “Saya sudah menghadapi masalah ini (rabies-red) selama 7 tahun, dan belum juga selesai hingga saat ini, saya ingin dengan kerjasama ini maka permasalahan rabies bisa tuntas di Bali dan tidak ada lagi penduduk Bali terkena penyakit itu,apalagi hingga meninggal,” pungkasnya. [JX/drn/W5]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here