Bali, Potret Pengembangan Toleransi

Denpasar, Jia Xiang – Tak salah menyebut Bali sebagai contoh pengembangan toleransi dalam keberagaman. Masyarakat Bali yang mayoritas beragama Hindu selama ini terbuka dan ramah terhadap umat beragama lain. Bahkan para wisatawan merasa nyaman berkunjung ke Pulau Dewata.

Demikian penjelasan Bhikkhu Tejanando kepada Jia Xiang Hometown saat ditemui di Denpasar, Bali Sabtu (16/11/13). “Toleransi di Bali masih sangat cukup bagus, saya kira Bali layak menjadi contoh bagi daerah lainnya di Indonesia dalam pengembangan toleransi,” tuturnya.

Bhikkhu Tejanando mengungkapkan, dibandingkan dengan daerah lainnya di Indonesia, semangat toleransi masyarakat Bali masih jauh lebih bagus. Apalagi, lanjutnya, masyarakat Bali sangat terbuka, tak hanya bagi masyarakat Indonesia tapi juga terbuka untuk wisatawan.

Ia menyontohkan, Pura Ulundanu Batur yang menjadi tempat sembahyang umat Hindu, namun di dalam pura ada kelenteng yang sering digunakan umat Buddha, Konghucu dan Tao untuk bersembahyang.

“Yang penting kita bisa tetap nyaman ke tempat itu, dan yang terpenting umat Hindu tidak merasa terganggu dalam melakukan sembahyang,” paparnya.

Senada hal itu, Ketua Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Bali, Ngurah Sudiana menyatakan bahwa rekatnya kerukunan yang terbangun di Bali karena filosofi hidup masyarakat Bali yang tidak mengenal penghancuran terhadap kepercayaan lain meski berbeda.

Harus Tulus
Sementara itu, Ivana Sumampauw alias Ching Ching menilai peringatan Hari Toleransi Internasional digagas dengan mengedepankan asas manfaat sehingga saling menguntungkan yang terikat dalam persaudaraan.

Pelaku bisnis kuliner di Jakarta ini mengatakan, hubungan kemanusiaan hendaknya menanggalkan jarak perbedaan suku, agama, dan ras. “Toleransi harus diaplikasikan secara tulus  dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya. [Dea/B1]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here