Bank Dunia: Separuh Penduduk Dunia Belum Terhubung Internet

LOS ANGELES, JIA XIANG – Bank Dunia menegaskan bahwa saat ini ada sembilan miliar perangkat seluler terhubung ke internet, namun lebih dari setengah populasi dunia masih tidak terhubungkan. Ahli-ahli teknologi dan para pejabat pemerintah mengatakan keterhubungan dengan internet penting dalam memperbaiki taraf hidup banyak orang. “Ada perlawanan besar dalam hal korupsi, transparansi, dan keterbukaan, dan teknologi betul-betul sebuah kendaraan untuk memastikan transaksi apapun yang terjadi dapat dilihat. Semuanya digital,” ujar Joe Mucheru, Sekretaris Kabinet Kenya dari Kementerian Informasi, Komunikasi dan Teknologi.
Namun masih ada wilayah-wilayah di dunia ini yang tidak terhubungkan, ujar Hilton Romanski, Wakil Presiden Senior dan Kepala Urusan Strategi di Cisco, perusahaan teknologi multinasional di AS. “Di Afrika, di Asia Tenggara ada wilayah besar…populasi yang tidak terhubungkan (dengan internet),” ujarnya.
Sementara menurut Denis O’Brien, Kepala Perusahaan Ponsel Digicel, mengatakan begitu orang-orang mulai menggunakan ponsel pintar, mereka mengurangi berbicara dan menggunakan lebih banyak data, sehingga layanan kecepatan tinggi atau broadband menjadi suatu keharusan.
Dia menambahkan, pembangunan infrastruktur di negara-negara berkembang merupakan tantangan, terutama di pedesaan karena nilai bisnisnya kecil.
Tetapi menurut para ahli teknologi, sektor publik dan swasta perlu bekerjasama untuk membawa internet ke daerah-daerah terpencil dan berkembang, dan mendorong pertumbuhan ekonomi. “Negara manapun yang ingin menciptakan investasi dan menjadi lokasi investasi untuk menciptakan lapangan pekerjaan, hal pertama yang diperlukan adalah broadband,” ujar O’Brien.
Kentaro Toyama, profesor madya untuk informasi komunitas di Universitas Michigan, Amerika Serikat, memperingatkan negara-negara berkembang yang melihat teknologi sebagai solusi untuk pertumbuhan ekonomi. Dia mengamati bahwa masalah-masalah sosial tidak berhenti di AS seiring perkembangan teknologi digital dalam 45 tahun terakhir.
“Dalam jangka waktu yang sama, negara ini menghadapi peningkatan ketidaksetaraan,” ujarnya. “Penghasilan tingkat menengah telah menurun.”
Di negara-negara berkembang, tambah Toyama, ponsel sendiri tidak dapat membantu orang-orang yang tidak berpendidikan dan kurang terampil dari segi teknologi. “Orang-orang seperti buruh di lahan pertanian, di mana tidak terlalu berpengaruh apakah ada akses ke makalah riset agronomi terbaru sebagai cara meningkatkan pertanian,” katanya.
Namun O’Brien mengutarakan, “begitu mendapat broadband, Anda dapat mengedukasi orang. Anda dapat menciptakan lapangan pekerjaan untuk orang-orang, dan dari segi pertanian akan menjadi jauh lebih efisien.”
Dia juga menunjuk pada perbedaan-perbedaan budaya di masing-masing negara. Berdasarkan situasi di Kenya, Mucheru mengatakan, “Internet akan membuat perubahan. Ini penting bagi masyarakat. Saya kira fakta bahwa mungkin orang-orang di Barat belum keluar dari kemiskinan karena tidak menggunakan ponsel mereka, hal itu tidak sama untuk Afrika.”
Romanski dari Cisco menjelaskan, perlu kerjasama antara sektor swasta, pemerintah dan nirlaba untuk memaksimalkan dampak teknologi. “Semua pihak harus bersatu untuk mendorong perubahan budaya yang benar dan pendidikan yang benar untuk negara-negara ini agar pasar negara berkembang dapat menikmati manfaat pertumbuhan ekonomi jangka panjang,” ujarnya.
Para ahli sepakat bahwa perubahan positif di sebuah negara dapat terjadi jika pendidikan mengenai teknologi digabungkan dengan kebijakan-kebijakan yang tepat. [JX/VOA/Eka]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here