Banyak Korban Dalam Kondisi Kritis

(Foto: JX/hellomagazine.com)

LONDON, JIA XIANG – Hari Senin (5/6/17) polisi Inggris menyatakan bahwa mereka tengahmeneliti dua alamat di kawasan London Timur-satu di Newham dan di Barking.  Sedangkan Scotland Yard menambahkan, sejumlah 12 orang telah ditangkap pihak keamanan setempat di sebuah apartemen di Barking. Alamat itu diyakini sebagai tempat tinggal salah satu penyerang tersebut.  Namun ada seorang pria berusia 55 tahun segera dibebaskan.

Setelah sempat sehari ditutup demi melanjutkan penyelelidikan  akhirnya  jalur  kereta api, termasuk stasiun bawah tanah, dibuka kembali Senin  pagi. Bahkan barikade yang dibuat oleh polisi setempat, menurut Perusahaan Kereta Api Nasional, sudah diangkat dan kini kereta api beroperasi normal. Bahkan kawasan di sekitar London Bridge  pun sudah dibuka kembali juga.

Sementara itu, sejauh ini korban pertama serangan itu bernama Chrissy Archibald warga negara Kanada. Menurut pernyataan keluarga,  Chrissy  sangat percaya  bahwa setiap orang  harus diharagai dan dihormati.” Chrissy sebenarnya tengah bekerja di sebuah rumah penampungan bagi para pengemis, dan segera dipindahkan ke Eropa daratan untuk berkumpul bersama tunangannya.

Sementara itu sebelumnya beredar berita, ada dua orang mengatakan bahwa mereka telah memperingatkan polisi tentang perilaku salah satu penyerang. Kepada  BBC Jejaring Asia, seorang yang enggan disebut namanya menyebutkan, salah satu penyerang itu, dalam kurun waktu dua tahun  belakangan ini, bersikap lebih ektrim.

“Kita bicara tentang sebuah serangan khusus yang terjadi dan seperti para pelaku aksi radikal, dia memiliki pembenaran sendiri untuk segalanya, segala-galanya dan apa saja. Dan  pada hari itu, saya menyadari bahwa saya harus mengontak pihak berwenang,” ujarnya. “saya sudah melakukan kewajiban saja, tetapi pihak berwenang justru tidak bertindak apa-apa.”

Menurut Asisten Komisioner Polisi, Mark Rowley, 36 orang kini dirawat di rumah sakit dengan jenis luka yang beragam, Namun ada 21 orang dalam kondisi kritis. Bukan cuma warga sipil yang terluka, ada empat polisi yang mencoba menghentikan serangan itu termasuk mereka yang terluka. Bahkan dua diantara polisi itu menderita luka serius.

Banyak negara bereaksi atas aksi serangan itu, bahkan mereka juga mencari tahu apakah ada warga negara mereka yang menjadi korban dari serangan itu. Sampai-sampai Perdana Menteri Australia, Malcolm Turnbull, sendiri tahu jumlah warga negaranya, ada empat orang,  yang terperangkap dalam serangan itu.

Candice Hedge dari Brisbane dan Andrew Marrison (Darwin), adalah warga Australia yang menderita luka tusukan.

Bagi Perdana Menteri Inggris, Theresa May, aksi-aksi teror di Inggris itu merupakan kenyataan yang harus dihadapinya. Kondisi ini semakin berat sebab hari Kamis (8/6/17), Inggris menjalani pemilu parlemen.

Namun Theresa May menegaskan, aksi teror yang terjadi  itu tidak akan mempengaruhi jalannya pemilu di negaranya.  Pemilu akan tetap dilaksanakan tepat waktu.  Sikap tegasnya itu, ternyata memang mendapat respons positif dari Partai Buruh dan Partai Konservatif  yang telah menetapkan bahwa mereka tidak menggelar kampanye untuk sementara. [JX/Berbagai sumber/Eka]

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here