Banyak Negara Diminta Perangi Perubahan Iklim

(Foto: JX/Ist)

MARRAKETCH, JIA XIANG – Konferensi iklim yang digelar di Marraketch, Maroko, Kamis (17/11/16)  menyepakati seruan  untuk adanya  komitmen politik dan solidaritas dari semua negara dalam memerangi perubahan iklim. Hal ini disepakati  di tengah kekhawatiran bahwa pemerintah Amerika Serikat (AS) berikutnya dapat mengubah kebijakan negara itu tentang perubahan iklim.

“Kami menyerukan adanya komitmen politik tertinggi untuk memerangi perubahan iklim, sebagai prioritas mendesak,” tulis seruan yang disepakati para peserta pada sidang pleno penutupan konferensi iklim itu.

“Kami menyerukan solidaritas yang kuat dengan negara-negara yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim, dan menggarisbawahi kebutuhan untuk mendukung upaya yang bertujuan meningkatkan kapasitas adaptasi mereka, memperkuat ketahanan dan mengurangi kerentanan,” tulis dokumen tersebut.

Kesepakatan  singkat ini dikeluarkan untuk memberikan “sinyal pergeseran ke arah era baru implementasi dan aksi iklim dan pembangunan berkelanjutan.”  Kesepakatan ini juga menekankan bahwa momentum  “luar biasa” perubahan iklim yang dihasilkan di seluruh dunia tahun ini adalah “tidak dapat diubah” karena “itu sedang didorong tidak hanya oleh pemerintah, tetapi oleh ilmuwan, pengusaha dan semua bentuk aksi global di semua tingkatan.”

“Tugas kami sekarang adalah mempercepat membangun momentum itu, bersama-sama bergerak maju mengurangi emisi gas rumah kaca dan untuk mendorong upaya adaptasi, sehingga menguntungkan dan mendukung Agenda Pembangunan Berkelanjutan dan tujuan pembangunan berkelanjutan 2030,” katanya.

Konferensi yang dibuka pada 7 November dimaksudkan  untuk membuka jalan bagi pelaksanaan Perjanjian Paris, namun telah dibayangi oleh kemenangan tak terduga dari kandidat Partai Republik, Donald Trump, dalam pemilihan presiden AS.

Selama kampanyenya, Trump menggambarkan isu perubahan iklim sebagai “tipuan” dan berjanji  untuk membatalkan berbagai langkah yang diambil oleh pemerintahan Obama, termasuk ratifikasi Perjanjian Paris.

Pernyataan di Maroko itu juga menegaskan kembali tujuan memobilisasi 100 miliar dollar AS untuk membantu negara-negara berkembang mengatasi perubahan iklim, tetapi tidak menyebutkan batas waktu yang jelas atau peta jalan untuk negara-negara maju menyediakan pendanaan ini seperti yang dijanjikan pada tahun 2009.

Menurut Utusan Khusus AS untuk perubahan iklim, Jonathan Pershing, negara-negara maju telah menjanjikan lebih dari 60 juta dollar AS untuk membantu negara-negara berkembang membangun kemampuan mereka untuk melaporkan upaya mereka dalam mengatasi perubahan iklim. [JX/Xinhua/Eka]

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here