Batu Giok Milik Bian Heh

Gambar ilustrasi batu giok (Foto: JX/Ist)

BEIJING, JIA XIANG – Pada Periode Musim Semi dan Gugur, ada seseorang bernama Bian Heh,  yang tinggal di Negara Chu. Dia  mendapat batu giok kasar di Gunung Chu.

Setelah menemukan batu giok itu, dia memutuskan untuk menyajikan batu giok yang berharga  itu kepada kaisar. Hal itu tidak lain  untuk menunjukkan kesetiaannya atas kedaulatan Kaisar Chuli.

Sayangnya, giok itu dinilai sebagai batu alam yang umum oleh pejabat atau badan penilai batu giok. Alhasil Kaisar Chuli sangat marah, dan memerintahkan untuk memenggal kaki kiri Bian Heh.

Setelah penobatan kaisar baru  yaitu Kaisar Chuwu, Bian Heh kembali memutuskan untuk menyerahkan batu giok itu untuk Chuwu untuk memperjelas langkah yang pernah dilakukannya.

Namun Kaisar Chuwu tidak menerima begitu saja, tetapi dia memiliki pejabat negara penilai batu giok di pengadilan.

Ternyata hasil penilaian itu, tetap sama, bahkan keputusan kaisar juga sama yaitu memenggal lagi kaki kanan Bian Heh.

Setelah Kaisar Chuwu wafat, Pangeran Chuwen pun dinobatkan menjadi raja. Pergantian raja ini ternyata memberi secercah harapan bagi  Bian Heh untuk membuktikan kebenaran dan keyakinan hatinya tentang batu giok itu. Namun, saat dia memikirkan apa yang telah terjadi, dia pun tak bisa menahan rasa sedihnya, dan akhirnya menangislah Bian Heh di balik bukit.

Dia tidak bisa menahan sedih, bahkan menangis selama beberapa hari.  Bahkan dia hampir mengeluarkan darah dari matanya. Dan kesedihan Bian Heh itu ternyata didengar oleh kaisar.

Kaisar pun menyuruh anak buahnya untuk mencari tahu mengapa Bian Heh begitu sedih.

Bian Heh menangis sampai-sampai menyebut alat yaitu “sekop sekop”. Mengapa sebuah giok asli tetapi dianggap sebagai batu biasa,  lagi dan lagi? Ungkap Bian Heh. “Mengapa seorang pria yang loyal  tidak percaya?”

Mendengar kisahnya, Kaisar Chuwen pun tersentuh oleh kesedihan mendalam yang dialami Bian Heh. Karena itu, Kaisar pun memerintahkan para penilai giok itu  untuk membuka batu tersebut dan melihatnya dari dekat.

Merekaka pun keheranan, sebab di dalam mantel kaisar yang tebal, batu itu berkilau dan sinarnya bercahaya menembus mantel itu. Kemudian dengan sangat hati-hati giok itu pun dipotong dan dipoles halus.  Akhirnya giok menjadi harta karun langka dari Negara Chu.

Akhirnya atas jasa warga negara biasa dan setiap seperti Bian Heh, Kaisar pun memberi nama batu giok itu Bian Heh. Dan “Giok Bian” akhirnya menjadi sebuah istilah. Tidak heran bila pada masa-masa itu, orang menyebut segala sesuatu yang sangat berharga dengan sebuah istilah yaitu Giok Milik Bian. [JX/chineseculture/Eka]

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here