Berburu Beasiswa ke Negeri Cina

Jakarta, Jia Xiang – Tuntutlah ilmu sampai ke Negeri Cina. Petuah ini sepertinya menjadi cambuk bagi banyak orang di Provinsi Aceh. Saat ini, bisa dibilang tak terhitung jumlah warga “Kota Serambi Mekkah” itu, yang melanjutkan studi  ke sejumlah perguruan tinggi di Cina. Kesempatan beasiswa pun menjadi buruan.

Anhar Fajri, satu dari sekian banyak orang Aceh yang mendapat beasiswa kuliah di Cina. Sejak 2012, ia dan beberapa orang lainnya, melanjutkan studi S2  di Cina karena mendapat beasiswa dari pemerintah negara itu.

Awalnya, alumni Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam,  Fakultas Dakwah,  IAIN Ar Raniry Aceh ini, merasa ilmu yang diperolehnya belum cukup untuk diaplikasikan. Akhirnya ia pun memutuskan melanjutkan kuliah di negeri tirai bambu. Gayung bersambut, ia pun mendapat beasiswa dari pemerintah Cina. “Waktu itu saya langsung berpikir kenapa tidak mencoba Cina, saya yakin banyak hal positif dapat dipelajari dari negeri ini,” kata Anhar Fajri kepada Jia Xiang Hometown, awal Oktober 2013. Menurut Anhar, saat ini Cina merupakan negara yang unggul dalam banyak hal di kawasan Asia. Diantaranya di bidang ekonomi, teknologi, pendidikan, dan sosial budaya. Tak akan keliru jika warga Indonesia menimba ilmu sebanyak-banyaknya di negeri itu.

“Sangat berbeda sistem kuliah di sini dengan di Tanah Air. Di sini sudah lumayan bagus dan terstruktur.

Awalnya kami harus banyak mengejar ketertinggalan, terutama menyangkut disiplinitas,” ujar Anhar mengisahkan awal perjalanan studinya di Cina. Anhar Fajri saat ini tinggal di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Cina. Kota tersebut rencananya akan di jadikan kota pendidikan di tahun 2020 mendatang. “Awalnya saya dan orang tua khawatir soal perilaku diskriminatif di Cina. Tapi ternyata hal itu tak terjadi. Saya dan beberapa teman dari Aceh tidak kesulitan menyesuaikan diri dengan lingkungan. Kami melihat masyarakat di Cina sangat menghargai perbedaan, termasuk urusan agama dan kebudayaan,” ungkap Anhar.

Jauh sebelum kuliah di Aceh, banyak generasi muda Aceh ragu menerima kesempatan studi di negeri tirai bambu itu. Orang tua mereka khawatir dan terkejut ketika anak masing-masing mendapat beasiswa ke Cina. Seperti pengakuan Muhammad Nasir. Penerima beasiswa ini bertutur, saat ia memberi tahu soal rencananya kuliah di Cina, orang tuanya sempat tidak merestui. Mungkin karena selama ini, media massa selalu mengaitan ideologi negara Cina dengan pengekangan terhadap kehidupan umat beragama. Setelah diyakinkan, orang tuanya pun mengizinkan. (JX/Kit/U1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here