Berdampak Negatif, Pola Pengasuhan Anak yang “Over Protective” (1)

WASHINGTON, JIA XIANG – Helicopter parent adalah pola pengasuhan anak, di mana orang tua sangat memperhatikan dan melindungi anak. Terminologi ini digunakan untuk pertama kali pada akhir tahun 1960-an. Tetapi saat ini, helicopter parent digunakan untuk dimensi baru ketika teknologi membuat sebagian orang tua bisa mengawasi anak dari jauh, memberi arahan kapan pun, dari mana pun juga. Dalam sebuah buku baru How to Raise an Adult: Break Free of the Overparenting Trap and Prepare Your Kids for Success, penulis Julie Lythcott-Haims mengajak pembaca melihat lebih jauh tentang pola asuh ini.
Julie Lythcott-Haims merasakan langsung pengalaman dengan pola asuh helicopter-parenting ini ketika dia bekerja sebagai dekan mahasiswa tahun pertama di Universitas Stanford. Anak-anak di masa depan, ujar Julie, di atas kertas sangat pintar dan berhasil. Tetapi banyak yang tidak bisa merawat diri mereka sendiri.
“Mereka secara terus-menerus dan konstan minta petunjuk dari orangtua masing-masing, membantu menyelesaikan masalah atau membuat pilihan tentang sesuatu,” ujar Julie.
Seringkali Julie harus mengingatkan para orang tua itu bahwa anak-anak mereka sudah cukup berumur untuk merawat diri sendiri. Pada satu sore dia mendapati bahwa dia sendiri adalah ibu yang menerapkan pola asuh helicopter parenting.
“Ketika itu anak-anak saya baru berusia 8 dan 10 tahun. Ketika saya sampai di rumah, saya menyiapkan makan malam dan mulai memotong-motong daging untuk anak saya yang berusia 10 tahun. Tiba-tiba saya menyadari bahwa saya terlalu melindungi anak saya itu. Dia seharusnya sudah bisa memotong sendiri makanannya!” tambahnya. “Tugas saya hanya mengajarkannya. Saya tidak melakukan itu. Saya justru menjadi orang tua yang menjalankan pola asuh helikopter parenting itu. Saya mulai berempati pada mereka dan menyadari bahwa dengan maksud baik, saya justru terlalu membantu anak-anak.”
Menurut Julie, ada tiga bentuk over parenting. Pertama, over protective atau terlalu melindungi. Yaitu orang tua yang menilai dunia terlalu menakutkan, tidak aman dan tidak dapat diprediksi, sehingga anak-anak perlu dilindungi.
Kedua, tipe yang over directive. Orang tua kerap mengatakan “saya tahu hal terbaik apa yang harus dilakukan supaya sukses dan kamu harus mengikuti. Kamu harus belajar topik-topik ini, melakukan kegiatan ini dan akan meraih keberhasilan.” Tipe ketiga adalah concierge, yaitu orang tua yang selalu ingin membuat kehidupan menjadi lebih mudah, mulai dari membangunkan anak-anak, mengawasi kegiatan mereka hingga memastikan mereka tidak melupakan apapun, melakukan pembicaraan yang tegas dengan guru untuk melengkapi PR atau mungkin membuatkan PR mereka,” ujarnya. [bersambung]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here