Bergerak Melawan Terorisme

Oleh: Iman Sjahputra

Belum lagi kesedihan hilang dari hati kita, karena serangan bom di Kota Manchester, Inggris, yang menewaskan puluhan orang. Kini pada Rabu (24/5/17) malam justru serangan bom panci, untuk kesekian kalinya, terjadi kembali di Ibu Kota tercinta ini yaitu di Terminal Kampung Melayu, Jakarta Timur.

Kesedihan demi kesedihan, kepedihan demi kepedihan meliputi seluruh negeri ini. Sebab peristiwa serangan bom ini menguak kembali kenangan lama, yang pernah terjadi di negeri ini. Kenangan itu selalu membuka kembali kepedihan lama, peristiwa pahit begitu menghantui negeri kita.

Apakah peristiwa serangan bom ini akan sirna dengan sendirinya? Atau dapatkah serangan menakutkan ini dapat diatasi oleh aparat keamanan kita? Kita tidak tahu jawabannya. Yang pasti ini bukan sekadar pertanyaan mudah, tetapi justru dibutuhkan kebersamaan di antara kita, rakyat dan pemerintah.

Dari peristiwa bom di Kampung Melayu ini semakin meyakinkan kita bahwa serangan teroris ini selalu membuat kita menangis dan khawatir. Akan jadi seperti apa negeri kita bila kesedihan akibat serangan teroris ini selalu menghantui kita? Pertanyaan ini sebenarnya harus menjadi pecut yang menguatkan hati, pikiran, dan tenaga,  untuk menghadapi kondisi ini bersama-sama.

Kita harus tetap waspada, sebab yang namanya teroris,  belum hilang dari bumi ini. Bukan tidak mungkin kelompok teroris ini memecahkan diri menjadi berbagai organisasi atau kelompok-kelompok baru, dan semakin menjadi salah satu ancaman dan musuh terbesar di negeri tercinta ini.

Dengan kata lain, serangan bom di Kampung Melayu ini sebenarnya pernyataan tegas bahwa mereka, kelompok teroris ini, kian berani menunjukkan diri. Karena itu, kita semua, semua unsur di negeri ini, harus pula mempu menunjukkan tindakan nyata dan tegas dalam membasmi terorisme ini.

Kita, masih berharap penuh bahwa aparat keamanan, terutama polisi, sebagai ujung tombak dalam memberantas terorisme. Tetapi kenyataan bahwa persenjataan, secara fisik boleh memadai, tetapi perangkat pendukung dalam bentuk UU dalam hal ini UU No 15 Tahun 2003, tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, sesungguhnya kurang memberikan polisi untuk bergerak lebih leluasa.

Artinya, pihak keamanan ini dapat bergerak sesuai fungsinya bila para teroris ini telah melakukan aksi teror mereka. Sedangkan, upaya pencegahan, sebelum aksi itu terjadi, tidak dapat dilakukan oleh polisi, dan masih ada beberapa lagi hambatan dalam menjalankan tugas dilihat dari sisi UU.

Akibat keterbatasan dari sisi UU ini, membuat polisi serba terbatas. Seakan-akan tidak ada kemauan atau keinginan untuk lebih dulu mencegahnya. Ibaratnya, “jemput bola”, sebelum adanya aksi serangan, polisi sudah bisa bergerak dua langkah ke depan untuk mengantisipasinya. Dengan demikian yang namanya serangan bom, atau bersenjata lainnya, dapat diredam.

Upaya memperbaiki UU itu, tidak hanya sebatas imbauan atau perintah dari Presiden Joko Widodo saja, tetapi mereka yang berkepentingan dengan UU itu, juga harus lebih proaktif. Sebab semakin lama UU itu direvisi, dikhawatirkan ancaman demi ancaman akan bermunculan. Namun ancaman-ancaman itu, tentu tidak kita harapkan.

Bagi Presiden tampaknya, tidak hanya sekadar ucapan atau perintah lisan saja, kalau perlu dengan sekuat tenaga mendorong aparat di bawahnya untuk cepat bergerak. Kalau Presiden pernah menyatakan akan “gebuk” mereka yang bertentangan dengan konstitusi. Nah ini kesempatan juga kepada presiden untuk “gebrak” supaya cepat bergerak membenahi UU terkait pemberantasan terorisme ini.

Sebab yang namanya terorisme,  dewasa ini, di negeri mana pun, tidak ada tempat bagi mereka. Begitu juga di negeri kita, jangan beri tempat dan peluang bagi mereka. “Gebuk” dan kalau perlu dikeruk sampai ke akar-akarnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here