Bisnis Turun Temurun di Pecinan

Yogyakarta, Jia Xiang – Matahari baru saja bangkit dari peraduannya tatkala bus trans Yogyakarta berhenti di koridor pertama di kawasan Malioboro. Belum banyak aktifitas di kawasan ini, karena waktu baru menunjukkan pukul 05.30. Kendati demikian, sejumlah warga sudah memulai kegiatan pagi dengan senam bersama.

Suasana Malioboro pagi hari sangat kontras tatkala malam.  Tidak ada kemacetan lalu lintas, pedagang makanan lesehan, pengamen ataupun motor-motor yang  diparkir di badan jalan.  Pagi itu, Malioboro benar-benar lengang. Setelah berjalan beberapa meter Jia Xiang Hometown melewati gerbang kantor Gubernur DI Yogyakarta ke arah selatan, sebuah gerbang juga menjulang tinggi.

Ornamena tiang merah dililit naga hijau hingga membentuk gapura setinggi sepuluh meter, seolah ingin menggapai langit. Sebuah papan di tengah gapura itu bertuliskan Kampung  Ketandan, diikuti tulisan berbahasa Jawa di atasnya dan Mandarin di bawahnya. Kampung ini,  diresmikan Gubernur DI Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono X , pada 20 April 2013 lalu. Itu adalah kawasan pecinan Yogyakarta masa sekarang. Di pagi yang dingin, kampung ini belum bergeliat. Apalagi hari Minggu. Banyak toko tutup karena libur. Hanya satu dua orang  berjalan keluar dari kampung itu. Di tangan mereka seperti menggenggam sebuah Alkitab. Mungkin bermaksud ke gereja.

Kampung Ketandan meliputi RW 04, di Kelurahan Ngupasan, Kecamatan Gondomanan. Di RW ini, ruko-ruko berdiri. Gerbang utama terletak di Jalan Ketandan Kulon. Di jalan ini kita bisa menemui bangunan berarsitektur Tionghoa. Meski sudah termakan usia, bangunan itu saksi bisu pecinan Yogyakarta. Jalan Ketandan Lor membelah Jalan Ketandan Kulon. Bila ke arah selatan, banyak toko emas,  dan masuk ke Pasar Beringharjo,  lalu tembus ke Jalan Beskalan.

Bila kita berbelok ke kiri, kita bertemu Jalan Suryatmajan dan Kantil Rejo, di sana usaha turun temurun itu juga masih bertahan. Jalan utama Malioboro sendiri,  dulu bernama Jalan Pecinan kini berganti nama menjadi Jalan Jend. Ahmad Yani, ada puluhan toko meskipun ciri arsitektur khas pecinan memudar, namun sejumlah toko masih menyisahkan sejarah pecinan Yogyakarta. Toko-toko obat, meski menggunakan nama Indonesia, tapi di bawahnya tertulis nama toko Tionghoa.  Misalnya toko obat Iboen yang sudah ada sebelum kemerdekaan.

Toko-toko itu terkesan kuno.  Pemiliknya pasti sudah bergenerasi. Kalau bukan generasi ketiga, mungkin keempat. Salah satunya toko Roti dan Kue Djoen, sudah empat generasi mengelolanya. Setiap hari toko ini buka menjelang siang.  Tan Tjoen Hwan, putri bungsu dari generasi ketiga kini menjadi pengelolanya.“Toko ini sudah ada jauh sebelum orang tua saya ada. Salah satu bukti kalau toko ini sudah tua, adalah timbangannya yang tertulis tahun 1940-an,”  ujar Tjoen Hwan sambil menunjukkan sebuah timbangan yang teronggok di atas rak kuenya. Setiap hari,  toko yang beroperasi selama delapan jam itu menjual aneka macam kue dan roti. Semuanya produksi sendiri. Kala pembeli sedang sepi, Tjoen Hwan mengajak Jia Xiang Hometown melihat ruang pembuatan roti. Baunya wangi, menandakan roti baru saja diangkat. (JX/Sas/U1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here