BNN Sita Rp 36,9 MiliarAset Bandar Narkoba

BNN amankan Rp 36,9 miliar aset bandar narkoba. (Foto: Humas BNN)

JAKARTA, JIA XIANG – Aset bernilai Rp 36,9 miliar, yang didapat dari pengungkapan kasus Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) kejahatan Narkotika, disita Badan Narkotika Nasional (BNN). Aset tersebut didapat dari pengungkapan tiga jaringan sindikat Narkotika selama periode Maret – April 2016. Tiga jaringan yang diungkap masing-masing jaringan Aceh – Medan, Jaringan Lapas Karang Intan Martapura, Jaringan Lubuk Pakam Medan.

Jaringan Aceh – Medan terungkap berawal dari tertangkapnya kurir berinisial AG dan AD saat membawa 11 kg sabu dan 4.951 butir pil ekstasi di pusat perbelanjaan di Jalan SM Raja, Medan, Sabtu (19/3/16). BNN berhasil mengamankan FR dan MU yang diduga terlibat dalam jaringanTPPU sindikat Narkotika. Dari hasil penyelidikan, FR dan MU berperan sebagai pemesan barang dan penyandang dana transaksi narkotika.

FR diamankan di rumahnya yang terletak di Dusun Tuanku Kelurahan Buket Teukuh Kecamatan Idi Tunong Kabupaten  Aceh Timur, Aceh. Sementara MU diamankan di Jalan Gatot Soebroto Medan Sumatera Utara.

Dari hasil pemeriksaan, FR telah 15 kali terlibat dalam transaksi peredaran gelap Narkoba sejak tahun 2013. Hasil bisnis narkotika sebagian dipergunakan untuk merintis beberapa bisnis di antaranya adalah kilang padi, jual-beli mobil, dan perkebunan kelapa sawit. Usaha tersebut dilakukan agar uang hasil kejahatan narkotika dapat tersamarkan.

Dari jaringan ini, petugas menyita aset senilaiRp 16 miliar yang terdiri dari 3 unit mobil, 8 unit truk pengangkut, 1 unit motor, 28 hektar perkebunan kelapa sawit, 2 unit rumah, 2 unit ruko, 1 unit gudang karet dan beberapa bidang tanah kosong di kawasan Aceh Timur.

Atas perbuatannya FR dan MU terjerat pasal berlapis, yakni Pasal137 Undang-Undang (UU) No. 35 tahun 2009 tentang Narkotika dan Pasal 3, Pasal 4 dan Pasal 5 ayat (1) juncto  Pasal 10 UU No. 8 tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) dengan ancaman hukuman maksimal 20 tahun penjara dan denda sebesar maksimal Rp. 10 miliar.

Pengungkapan jaringan Lapas Karang Intan Martapura berawal dari ditangkapnya bandar berinisial BR alias UD oleh tim BNNP Kalimantan Selatan di Banjarmasin. Ketika itu dia membawa sabu seberat 2,5 ons menuju Tanjung, Kalimantan Selatan, pada tanggal 1 April 2016. Dari hasil pemeriksaan, BNN mengungkap adanya kasus TPPU dan berhasil menyeret nama MD alias KD (42), warga binaanLapas Narkotika Karang Intan Martapura, Kalimantan Selatan.

Dari jaringan KD, BNN berhasil mengamankan aset senilai Rp 4,5 miliar yang terdiri dari 4 unit mobil, 7 unit  motor, 1 unit rumah, dan 10 bidang tanah bersertifikat.

KD sudah cukup lama bergelut dalam bisnis haram ini.Tercatat KD pertama kali mendekam di penjara tahun 2004 karena kasus narkotika. Di tahun 2007 KD kembali dipenjara atas kasus yang sama. Layaknya pesakitan yang tak kunjung jera, KD kembali berulah dan dipenjara di tahun 2010. Terakhir KD kembali mendekam di penjara tahun 2012 hingga saat ini.

Bisinis tersebut tetap ia jalani meski dirinya mendekam di balik jeruji besi. KD memanfaatkan izin berobat di luar untuk menjalankan bisnis narkoba.Hingga akhirnya BNN berhasil mengungkap keterlibatannya kembali dalam jaringan narkotika.

Atas perbuatannya, tersangka dijerat Pasal 137 huruf b UU No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika danPasal 5 ayat (1) UU No. 8 tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan TPPU dengan ancaman hukuman maksimal 20 tahun penjara dan denda sebesar maksimal Rp. 10 miliar.

JaringanLubukPakam, Medan diungkap berawal dari tertangkapnya kurir berinisial MR alias AC saat membawa 46.000 butir ekstasi, 20,5 kg sabu, dan 600.000 happy five di satu pusat perbelanjaan di kawasan Gatot Subroto, Medan, tanggal 1 April 2016.

Dari MR didapat keterangan bahwa narkotika tersebut milik Napi Lapas Lubuk Pakam berinisial TG. Dalam menjalankan transaksi narkotika, TG dibantu oleh kakak kandungnya berinisial JT. Dari tangan JT petugas berhasil menyita uang sebesar Rp 8,2 miliar.

Kasus ini menyeret nama oknum polisi AKP IL yang diduga menerima suap dari TG terkait kejahatannarkotika yang dilakukannya. Dari tangan IL, BNN mengamankan uang tunai sebesar Rp 2,3 miliar. TG berkomunikasi dengan IL melalui TH dan TH mendapat bagian Rp 500 juta dari transaksi ini (sisa uang yang berhasil disita sebesar Rp 400 miliar).

BNN melakukan pengembangan kasus dan kembali menemukan rekening atas nama TG yang juga dikuasai oleh JT dengan total saldo Rp 5.459.000.000. Rekening tersebut sudah diblokir dan masih dalam pengembangan. Sehingga total aset jaringanLubukPakam adalah Rp 16,4 miliar

Ketiga tersangka diancam Pasal 137 huruf b UU No. 35 tahun 2009  tentang Narkotika, dan Pasal 5 ayat (1) UU No. 8 tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan TPPU.[JX/W5]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here