Budaya Teh dari Tiongkok ke Eropa

Budaya minum teh pada ucapara pernikahan.

JAKARTA, JIA XIANG – Minum teh telah menjadi semacam ritual di kalangan masyarakat Tionghoa. Di Tiongkok, budaya minum teh telah dikenal sejak 3000 tahun Sebelum Masehi sejak ditemukan oleh Kaisar Shen Nung. Bahkan berlanjut di Jepang sejak masa Kamakura (1192 – 1333) oleh pengikut Zen.
Selama masa Dinasti Han dan Yuan, komoditas teh diperkenalkan ke dunia luar melalui pertukaran kebudayaan menyeberangi Asia Tengah melalui Jalur Sutera. Dan pada abad ke 17 sejak masuknya teh ke Eropa, teh menjadi minuman kegemaran masyarakat kelas atas di Eropa.

Ramuan tradisional teh di Tiongkok.
Ramuan tradisional teh di Tiongkok.

Di Indonesia sendiri tanaman teh pertama kali dibawa masuk oleh seorang berkebangsaan Jerman di tahun 1684. Meski belum bisa dibuktikan khasiat teh secara ilmiah, namun masyarakat Tionghoa sudah meyakini teh dapat menetralisasi kadar lemak dalam darah, setelah mereka mengkonsumsi makanan yang mengandung lemak. Mereka juga percaya minum teh dapat melancarkan buang air kecil, menghambat diare, dan sederet kegunaan lainnya.
Teh pun mulai berkembang sejak zaman Dinasti Qin dan Han. Daun teh di panggang dan di giling hingga menjadi bubuk. Teh ini disebut teh panggang dan bisa dicampur dengan tumbuhan lain seperti kucai, jahe dan jeruk.
Budaya teh sering diselenggarakan di istana, kuil dan acara-acara perkumpulan para cendekiawan. Suasana jamuan teh pun memiliki tata krama ketat. Setiap teh yang disajikan harus berkualitas. Airnya pun harus dari mata air yang terkenal. Bahkan Lu Yu dari Dinasti Tang, setelah bertahun-tahun mengamati dan meneliti, menulis sebuah buku berjudul Cha Jing. Buku ini meringkas satu perangkat metode, dari menanam sampai memetik teh dan membuat rasa teh sampai mencicipi teh.
Kebiasaan minum teh dan tata cara di berbagai tempat di Tiongkok berbeda, karena setiap daerah mempunyai kebiasaan minum teh yang tidak sama. Beijing misalnya, ketika tuan rumah menyuguhkan secangkir teh, tamunya harus berdiri dan menerimanya dengan dua tangan, sambil menyatakan terima kasih.
Sedangkan di Provinsi Guangdong dan Guangxi, Tiongkok selatan, begitu tuan rumah menyuguhkan teh, tamunya segera mengetuk meja 3 kali dengan jari kanan untuk menyatakan terima kasih.
Kebiasaan mengetuk meja, konon kabarnya berasal dari ketika Kaisar atau pembesar zaman dahulu mengadakan perjalanan dengan menyamar, maka ketika bersama-sama minum teh, bawahannya menggantikan bersujud kepada Kaisar dengan mengetuk meja untuk menyatakan terima kasih. [JX/Tionghoa.info/Eka]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here