Bukti Sejarah Perayaan Festival Lentera

Atraksi naga (Foto: JX/Ist)

BEIJING,  JIA XIANG –  Apakah Anda ingin tahu tentang Festival Lentera? Apa Anda juga ingin tahu banyak tentang hal itu? Arkeolog dan pengrajin mungkin bisa memberikan secercah sinar mengenai perayaan tahunan ini.

Sebuah benda berusia 1.400 tahun turbot dare sutra, berukuran sebesar kertas A4, pastinya adalah  lentera atau lampion tergantung di sebuah pohon, bahkan mengelilingi pohon tersebut.

Suasana itu menggambarkan perayaan Festival Lentera, ujar Abdlaibulizi, peneliti pada Museum Wilayah Otonomi Xinjiang Uygur.

Tahun 1970-an ditemukan benda di sebuah makam kuno Astana di Turpan, Xinjiang. Makam itu berjarak 2 km dari reruntuhan kota kuno yang disebut Gaochang, yang aktif sekali dari abad pertama sebelum Masehi hingga abad ke-13 sesudah Masehi. Makam itu akhirnya menjadi pemakaman para pejabat dan masyarakat umum dari berbagai kelompok etnis di Gaochang.

Sercara tradisi, orang Cina membuar lentera atau lampion dan bola-bola nasi, yang melambangkan pertemuan kembali, pada perayaan Festival Lampion, bulan purnama pertama dari tahun baru lunar, yang jatuh pada 11 Februari tahun ini. Di Indonesia perayaan ini disebut Cap Go Meh.

Menurut Caoi Zhenrong (73 tahun), telah membuat lampion sejak dia berusia 4 tahun. Tahun ini adalah Tahun Ayam Api, dan Cao telah membuat 2.000 lentera berbentuk ayam.

Biasanya dibutuhkan waktu tiga hari untuk menyelesaikan sekitar 30 lampion, mulai dari mempersiapkan bambu, kertas sampai pada penyelesaian akhir. Namun sekarang kabel ini sudah mulai digunakan.

“Tidak banyak generasiu muda yang tertarik untuk membuat lampion,” ujar Cao. “Ada lebih dari 200 bengkel atau tempat membuat lampion di Nanjing di tahunu 1960-an. Namun sekarang hanya tersisa 20 saja.

Karena itu, Cao berharap untuk bias menginovasi kerajinan tangan ini, sehingga tidak perlu sirna di telan zaman. “Saya tidak hanya membuat lampion bunga lotus, sehingga saya harus bereksperimen dengan menggunakan bahan lain yaitu sutera dan listrik,” ungkap Cao.

Perayaan Festival Lentera atau lampion ini menandakan berakhirnya perayaan musim semi. Sementara menurut Duan Xujian, dia lebih senang berada di rumah sampai   perayaan Festival Lentera  berlangsung, walaupun perusahaannya sudah harus beroperasi pada 3 Februari lalu.

“Inilah sebabnya mengapa perayaan musim semi harus berakhir,” ujar Duan (28 tahun) dari Desa Nanyu, Kabupaten Qinyuan, di utara Provinsi Shanxi.

Dia adalah salah satu dari 400 warga desa yang mengabadikan perayaan itu pada Sabtu pagi. Ini adalah yang pertama desa itu datang bersama-sama dan berfoto bersama, ungkap Liu Guangming (69). [JX/Xinhua/Eka]

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here