Cap Go Meh Datang, Tatung Singkawang Berlaga

Jia Xiang – Singkawang, salah satu Pecinan di Kalimantan Barat,  pantas mendapat  julukan kota seribu klenteng. Bila berada di kota itu, kita dengan mudah menemukan klenteng, hampir di berbagai sudut Kota.

Keadaan itu membuktikan bahwa etnis China sudah menjadi bagian dari kehidupan kota yang hanya berjarak tiga jam perjalanan dari Ibu Kota Provinsi Kalimantan Barat, Pontianak.  Mereka sudah membaur dan menyatu dengan penduduk etnis Melayu dan Dayak wilayah setempat. Dengan kata lain, orang-orang China di Singkawang memiliki sejarah panjang dan menjadi salah satu ciri khas kota itu.

Membaurnya warga Kota Singkawang itu bisa terlihat  bukan hanya pada saat perayaan Cap Go Meh saja, tetapi yang lebih menarik bagi warga setempat maupun wisatawan justru bukan iring-iringan kendaraan hias, tetapi tatung atau orang yang kerasukan roh itu menjadi daya tarik tersendiri.

Ritual-ritual bernuansa mistik sarat sekali dalam setiap laga dan aksi para tatung. Sejak beberapa hari lalu, bahkan hingga, Sabtu (23/2/13), sehari sebelum digelarnya Cap Go Meh, para tatung harus menjalankan persiapan dan ritual, sejak di klenteng atau vihara masing-masing sampai  di depan Vihara Tri Darma Bumi Raya, Pusat Kota Singkawang. Setelah itu mereka berkeliling ke berbagai tempat di kota itu. Dan  puncaknya, mereka ikut dalam pawai  merayakan Cap Go Meh yang tahun ini jatuh pada hari Minggu (24/2/13).

Tidak heran bila mereka harus mendatangi vihara tertua di kota itu, dan ini menjadi sebuah tradisi yang terus menerus dilakukan sebelum mengikuti keramaian Cap Go Meh yang jatuh  hari Minggu (24/2/13) yang dibalut dengan atraksi yang mengerikan bagi sebagian kalangan.

Warga yang datang, khususnya wisatawan dari luar Kota Singkawang,  pun berdecak kagum melihat aksi yang diperlihatkan oleh para tatung. Tatung adalah proses di mana raga seseorang dirasuki oleh roh. Seseorang sebelum dirasuki roh itu disebut Paktung. Tampaknya memang tidak sembarangan  menjadi seorang tatung, harus melalui jalan yang panjang untuk bisa kerasukan.

Pada ritual yang dilakukan di depan vihara itu, kita dapat menyaksikan tatung berusia muda hingga yang “senja”. Di situ mereka  saling memperlihatkan kemampuan masing-masing. Seorang tatung bernama Bong Nyang  Song yang berusi hampir 70 tahun masih ikut serta. Menurut seorang petugas yang membawa tandu tatung itu, Bong sudah bertindak sebagai tatung sejak usia remaja. Sementara beberapa remaja berusia sekitar 20 tahun pun, kini sudah banyak yang ikut serta dalam tradisi tatung ini.

Pada dasarnya tatung yang sudah kerasukan itu umumnya beraksi dengan aneka gaya dan cara. Ada tatung  berdiri di atas beberapa bilah pedang. Ada juga mereka yang duduk, sambil sesekali berdiri di atas tiga sampai empat bilah pedang . Namun ada pula yang berdiri di ujung pedang-pedang itu. Bahkan, tidak sedikit tatung yang juga berdiri di atas paku.

Suni, warga kota itu, mengatakan bahwa aksi para tatung itu sudah hal yang biasa. Bahkan Keramaian ini menjadi tolok ukur bahwa para pendatang maupun warga setempat memang selalu menarik. “Ini bukan peristiwa yang baru, tapi selalu berulang. Selalu ramai dan meriah. Walau pun terkesan menakutkan dan magis. Tapi anak-anak, sampai kakek dan nenek tidak pernah beranjak dari kerumunan massa untuk menyaksikan atraksi magis itu, ” kata Suni.

Keramaian dan kerumunan massa yang berdesakan,  menjadi ciri khas kemeriahan dalam proses ritual para tatung itu. Tampaknya para tatung  pun seakan mengerti kalau mereka kini menjadi pusat perhatian para wisatawan. Karena itu, ada tatung yang selalu menenggak minuman keras dari botol yang bertuliskan huruf-huruf  China atau minuman beralkohol dari kaleng.

Belum lagi, tatung yang berlenggak-lenggok dan berjingkrakan di depan tandu yang akan mengusungnya. Ada pula dengan wajah serius, tanpa senyum,   menenggak minuman beralkohol yang disuguhkan oleh para pembantu yang membopongnya di atas tandu, sambil menusuk-nusukan tubuhnya dengan pedang.

Yang pasti,  atraksi itu bukan menjadikan para pengunjung khawatir atau takut, tetapi justru suasana di sekitar vihara itu  semakin ramai, berdesak-desakan pun tak terhindari. Ini bukan tanpa alasan, menurut beberapa pengunjung, yang penting mereka bisa lebih  dekat ke tatung-tatung itu.  “Ingin melihat dan mengabadikan aksi-aksi itu dari dekat,” ujar seorang ibu bersama dua anaknya. Tampaknya siapa pun tatung itu,  beradegan apa pun, tentunya yang dianggap aneh dan menyeramkan, di situlah pengunjung berkerumun. Bagai semut mengerumuni gula. [E4/D9]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here