Cegah Berita Palsu, Google Pasang Fitur Baru

WASHINGTON, JIA XIANG – Beberapa bahan baru telah dipasang  Google ke dalam mesin pencariannya  sebagai langkah mencegah informasi palsu dan saran pencarian yang ofensif mencemari hasil-hasil pencariannya.

Google telah menambahkan beberapa fitur baru ke dalam mesin pencariannya dalam upayanya mencegah informasi palsu dan rekomendasi atau saran yang bersifat menyinggung. Google telah merancang perubahan ini selama empat bulan, namun belum membahasnya secara terbuka hingga sekarang.

Pengumuman di sebuah posting blog,  Selasa (25/4/17) mencerminkan kepercayaan Google terhadap sistem filter (penyaringan) baru yang dirancang untuk mengurangi kemungkinan mesin pencarinya akan menampilkan cerita-cerita yang tidak benar,  tentang orang dan peristiwa, sebuah fenomena yang biasa disebut sebagai “berita palsu”.

“Bukan berarti masalah (berita palsu) ini akan bisa hilang sama sekali, tapi sekarang kita berpikir bahwa kita bisa selangkah lebih maju dari masalah-masalah ini,” kata Ben Gomes, Wakil Presiden Google yang menangani teknik pencarian.

Selain mengambil langkah untuk memblokade berita palsu agar tidak muncul di hasil mesin pencariannya, Google juga telah memprogram ulang fitur populer yang secara otomatis mencoba memprediksi apa yang ingin dicari seseorang saat mengetik di mesin pencarinya. Fitur yang disebut sebagai  “autocomplete”  itu telah dirombak untuk menghilangkan saran penghinaan, seperti  “apakah para perempuan jahat”,  atau rekomendasi yang mendorong kepada kekerasan.

Google juga menambahkan opsi masukan atau feedback yang memungkinkan pengguna mengeluhkan saran autocomplete yang tidak tepat, sehingga manusia dapat meninjau ulang kata-katanya.

Sementara Facebook, tempat di mana banyak berita palsu dan kabar buruk lainnya beredar luas, juga telah mencoba membendung gelombang informasi menyesatkan dengan bekerjasama dengan kantor berita Associated Press dan organisasi berita lainnya untuk meninjau kembali cerita-cerita yang dicurigai dan menyampaikan kebenaran bila diperlukan.

Facebook juga telah menyediakan kepada para penggunanya yang berjumlah hampir 2 miliar, cara untuk mengidentifikasi posting yang diyakini mengandung informasi palsu, yang sekarang diikuti Google dengan memungkinkan penggunanya melakukan hal yang sama terhadap beberapa cuplikan berita yang ditampilkan dalam hasil pencarian oleh mesin pencarinya.

Urutan Teratas

Google mulai membidik berita-berita palsu akhir Desember lalu, setelah beberapa contoh informasi yang menyesatkan yang memalukan tampil di urutan atas hasil mesin pencarinya.

Contohnya mesin pencari Google merujuk situs web yang melaporkan secara tidak benar bahwa Presiden terpilih Donald Trump telah memenangkan popularitas suara pemilih di pemilu AS, dan Presiden Barack Obama merencanakan kudeta, dan bahwa peristiwa Holocaust pada Perang Dunia II tidak pernah terjadi.

Diperkirakan hanya sekitar 0,25 persen dari hasil pencarian Google yang tercemar dengan informasi palsu, kata Gomes. Namun, hal itu masih cukup mengancam integritas mesin pencari yang memproses miliaran permintaan pencarian per hari, karena pada umumnya Google dianggap sebagai sumber informasi paling akurat di internet.

Untuk menanggulangi permasalahan ini, Google mulai merevisi algoritma yang menghasilkan hasil pencarian dengan bantuan 10.000 orang yang menilai kualitas dan kehandalan rekomendasi yang dihasilkan selama uji coba. Google juga menulis ulang buku pedoman setebal 140 halaman yang membantu para penilai kendali mutu dalam melakukan penilaian. [JX/VOA/Eka]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here