Cengbeng, Bukan Hanya Bersedih Tapi Juga Kegembiraan

Warga Cina bertamasya pada perayaan cengbeng. (Foto: JX/Xinhua)

BEIJING, JIA XIANG – Perayaan cengbeng tampaknya sudah benyak dilakukan oleh warga keturunan Cina di berbagai tempat. Tidak heran sejak awal bulan April ini banyak orang sudah berlibur, kembali ke kampung halaman masing-masing untuk melaksanakan cengbeng.

Pada tanggal April 4, warga di berbagai penjuru Cina merayakan cengbeng. Secara harafiah cengbeng berarti “jelas dan terang”, adalah salah satu dari 24 tanggal yang membagi tahun matahari pada kalender tradisional Cina. Hari itu menjelaskan bahwa musim untuk membajak dan menabur di sawah telah  tiba, sebab suhu dan curah hujan meningkat.

Sebagai sebuah perayaan, cengbeng diyakini memiliki sejarah panjang sekitar 2.500 tahun dan orang-orang Cina telah sejak dikembangkan tradisi berwarna-warni. Tradisi yang paling penting dari cengbeng adalah menghormati para leluhur dan memperingati anggota keluarga dan kerabat yang telah meninggal.

(Foto: JX/Xinhua)

Biasanya penghormatan itu dilakukan dengan mengunjungi makam  mereka. Karena itu, cengbeng dalam bahasa Inggris diterjemahkan ke dalam Tomb-Sweeping Day.

Ini sebuah ritual tradisional termasuk berdoa, membersihkan makam dan membakar berbagai benda untuk menghormati mereka yang telah wafat, biasanya berupa uang kertas, pakaian kertas dan rumah-rumah kertas. Namun sekarang ini daftar benda-benda itu mungkin termasuk iPhone kertas.

Tradisi membesihkan makam ini  dimulai oleh adipati bernama Chong’er, yang begitu setiap kepada majikannya sampai-sampai dia harus memotong daging pahanya untuk memberi makan majikannya itu  selama pengasingan masa pengasingan mereka. Majikannya bernama Jie Zitui, dia diasingkan ke hutan setelah Chong’ er menjadi adipati.

Namun Chong-er tidak bisa  menemukan Jie di hutan,  dan akhirnya dia memerintahkan untuk membakar hutan itu supaya  memaksa Jie keluar. Tapi Jie dan ibunya akhirnya mati terbakar.

Sebagai langah penyesalan adipati itu kemudian memerintahkan dilakukan ritual peringatan bagi mereka.

Tradisi  membersihkan makam ini, oleh penyair kuno seperti Du Mu dari Dinasti Tang (618-907) dibuatlah sebuah puisi:

Hujan gerimis turun seperti air mata pada hari berkabung; Jantung orang-orang yang berkabung akan beristirahat. “Dimana toko anggur bisa ditemukan menenggelamkan rasa sedihku?” Seorang gembala sapi menunjuk ke sebuah pondok di tengah taman bunga aprikot.

Namun, dalam perayaan cengbeng  tidak semua tentang kesedihan.

Banyak juga yang merayakannya dengan berbagaicara seperti main layang-layang, baik oleh orang tua maupun anak  muda.

Bagi anak-anak bermain ayunan. Sebuah makanan khusus untuk festival ini juga ada, disebut qingtuan, atau nasi bola-bola hijau manis, terbuat dari beras ketan  yang direndam air gula dan diwarnai oleh jus tanaman hijau.

Selain itu, orang percaya bahwa makan telur rebus pada perayaan cengbeng   akan memberikan kesehatan yang baik sepanjang tahun ini.

Bahkan ada orang yang melukis lebih dulu kulit telur rebus itu sebelum disantap. Ada kebiasaan lain seperti membenturkan telur rebus miliknya dengan milik orang lain hanya  untuk bersenang-senang.

Sebenarnya, salah satu kebiasaan paling penting dan bertahan lama dalam perayaan cengbeng ini adalah “taqing“, artinya  musim berkemah atau bertamasya, karena ini adalah saat di mana matahari bersinar lembut dan cerah, pohon-pohon dan rumput menjadi hijau,  serta bunga-bunga bermekaran. Hari ini, cengbeng adalah hari libur nasional.

Namun ada juga beberapa tradisi cengbeng telah membawa masalah, katakanlah, kemacetan lalu lintas dan polusi udara atau bahkan kebakaran hutan yang disebabkan oleh petasan dan kertas uang yang dibakar.

Sebagai bagian dari kampanye cengbeng hijau, orang telah didorong untuk membayar upeti kepada nenek moyang mereka dan orang-orang tercinta yang telah wafat secara online, atau mengurangi kegiatan membakar uang kertas.

[JX/Xinhua/Eka]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here