Chu, Suami Penuh Perhatian

Di sebuah Desa Chu di wilayah Chi-yang,  hidup seorang pria bernama Chu.  Dia wafat di usia lima puluh tahun.  Mendengar berita duka itu, keluarga yang lain menangis dan meratapinya, dan mereka masing-masing mengenakan jubah berkabung.

Anggota keluarga Chu pun bergegas ke peti jenazah, ternyata mereka melihat Chu  hidup lagi, dan mulai penuh sukacita. Lalu anggota keluarganya itu bertanya kepada Chu tentang peristiwa itu.  

Tapi pria tua itu hanya  menjawab  pertanyaan dari istrinya saja. Dia mengatakan, “Ketika saya meninggal, saya tidak berharap untuk kembali lagi. Namun, pada saat saya telah berjalan beberapa mil, saya pikir tubuh tua yang malang ini  tertinggal di belakang saya, segala sesuatunya bergantung pada orang lain, dan tidak ada kenikmatan hidup yang lebih.  Jadi saya berubah  pikiran, saya  kembali lagi, dan membawa kamu  pergi bersama saya.”
Banyak orang berpendapat,  kenyataan ini hanya sebuah pembicaraan yang terputus dari seorang pria yang baru saja siuman, dan ini tidak terlalu penting.  Tetapi Chu mengulanginya lagi cerita itu,  kemudian istrinya berkata, “Ini semua sangat baik, tetapi kamu  baru saja hidup lagi,  bagaimana kamu bisa langsung wafat lagi?
“Hal ini sangat sederhana,” jawab suaminya. “Pergi dan bersiap-siap
lah.”  Istri Chu itu pun tertawa, namun dia tidak beranjak dari kursinya dan tidak melakukan apa pun. Chu terus mendesak lagi istrinya untuk bersiap-siap, meninggalkan rumah mereka.

Dalam waktu singkat istrinya kembali, dan berpura-pura bahwa dia telah melakukan apa yang diinginkannya.  Kamu memiliki gaun yang bagus,” katanya.  Tapi istri Chu kembali tidak bergerak alias tak melakukan apa pun sampai suaminya mendesak lagi, dan lagi.

Istri Chu sebenarnya  tidak suka menyela suaminya, namun kemudian dia muncul  dari kamarnya dengan perlengkapan lengkap.
Para wanita lain dari keluarga
mereka yang hadir di situ pun diam-diam menertawai istri Chu. Ketika Chu meletakkan kepalanya di atas bantal, dan mengatakan kepada istrinya untuk melakukan hal yang sama.

“Ini terlalu konyol,” istri Chu mulai membantah. Tetapi Chu memukul tempat tidur dengan tangannya, dan berseru, “Apa ada yang harus ditertawakan dari sebuah kematian?”  Sedangkan anggota keluarga lainnya, memandang  Chu  yang tengah mengamuk, dan meminta istrinya  untuk mematuhi  keinginannya.

Istri Chu kemudian berbaring di samping suaminya. Ini semacam hiburan bagi anggota keluarga yang datang.  Tapi segera keadaan menjadi berubah, istri Chu pun  berhenti tersenyum, dan seketika menutup kedua matanya.

Untuk waktu yang lama tidak terdengar suara, seakan-akan istri Chu sudah terlelap dalam tidurnya.  Dan ketika pengunjung mendekati istri Chu, lalu menyentuhnya. Ternyata  tubuhnya sudah sedingin es, dan tidak bernapas lagi. Kemudian mereka mencoba menyentuh tubuh Chu, ternyata Chu juga sudah wafat. [JX/berbagai sumber/Eka]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here