Cina Serius Perangi Narkoba

Jia Xiang – Pemerintah Cina memperlihatkan keseriusannya untuk memvonis hukuman mati terhadap gembong narkoba demi menekan peredaran dan memberikan efek jera pada para penjahat barang terlarang itu di negeri Tirai Bambu tersebut.

Salah satu contoh kasus yang menjadi perhatian dunia adalah ketika empat terpidana mati di Cina, yakni gembong narkoba asal Myanmar bersama tiga rekannya, diarak dan disiarkan langsung di televisi Cina sebelum mereka dieksekusi karena telah membunuh 13 pelaut Cina di Sungai Mekong pada 2011.

Eksekusi  itu sendiri memang tidak disiarkan oleh televisi, kutip BBC, hari Sabtu (26/10/13), tetapi banyak pengguna internet di Cina menyatakan kemarahan mereka dan menyebut penayangan langsung tersebut tidak peka.

Di antara terpidana mati yang dieksekusi itu adalah Naw Kham (43 tahun) warga Burma yang dianggap sebagai gembong narkoba paling berpengaruh di kawasan Segitiga Emas yaitu Thailand, Laos dan Myanmar.

Sebelumnya televisi pemerintah Cina menayangkan wawancara Naw Kham. Dalam wawancara itu ia mengatakan rindu ibu dan anak-anaknya. Sementara siaran langsung terhukum mati yang memperlihatkan mereka menuju lokasi eksekusi,  diyakini baru pertama kali terjadi di Cina.
Di Indonesia.

Senada dengan Cina, Indonesia pun menjatuhkan vonis mati terhadap terdakwa Freddy Budiman, pengedar sekaligus produsen narkotika yang berkali-kali mengelabui aparat ketika menjalankan kejahatannya.

Sikap Majelis Hakim PN Jakarta Barat yang menjatuhkan vonis berlapis kepada terdakwa Freddy Budiman menjadi bukti sebuah kemajuan dalam vonis hukuman mati di negeri ini. Hal tersebut mendapat apresiasi dari BNN.

Freddy divonis hukuman mati dalam sidang yang dipimpin Hakim Aswandi, ditambah hukuman untuk tidak mendapat fasilitas komunikasi dengan alat apapun dari penjara selama masih hidup.

Hukuman “mencabut hak mempergunakan alat-alat komunikasi setelah putusan diucapkan” ini dijatuhkan karena selama di penjara Freddy  masih leluasa menggunakan telepon genggam untuk mengendalikan operasi narkotikanya.

Sedikitnya dua kali terungkap pasokan kasus narkotika dalam jumlah besar didalangi Freddy dari  penjara, termasuk impor 1,4 juta butir pil ekstasi yang disergap BNN dalam sebuah kontainer impor dari Cina.

Dalam persidangan terungkap terdakwa menggunakan 40 telepon genggam untuk memuluskan operasi haram tersebut. Pencabutan hak komunikasi juga menjadi putusan yang sangat berpihak pada perang melawan narkoba. Menurut UU tentang narkoba, seorang pengedar di Indonesia bisa dijatuhi hukuman mati jika terbukti mengedarkan narkotika golongan I lebih dari 5 gram. [B1/E4]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here