Cina Sukses Uji Coba CH UAV

(Foto: JX/Xinhua)

BEIJING, JIA XIANG – Caihong (CH) atau pelangi, mungkin kita menduga bahwa ini fenomena alam yang terjadi setelah turun hujan. Tetapi di Cina Caihong itu sebenarnya bukan pelangi dalam arti yang sesungguhnya tetapi ini adalah sebuah pesawat terbang tanpa awak (drone) bertenaga surya atau disebut unmanned aerial vehicle (UAV).

Pesawat ini  Selasa (13/6/17) diujicoba terbang. Bahkan pesawat ini mampu terbang pada ketinggian mendekati ruang angkasa atau berhasil terbang  hingga ketinggian 20 km.

Proyek ini dibawah tim dari Cina yaitu China Aerospace Science and Technology Corporation . Menurut mereka, Selasa, CH UAV terbang dengan lancar dekat ruang angkasa selama lebih dari 15 jam, tentu masih dibawah kendali. Pesawat ini mampu menyelesaikan semua jadwal kerja sebelum mendarat dengan aman.

Terbang mendekati ruang angkasa itu, sesungguhnya berjarak 20 km hingga 100 km di atas permukaan laut. Kondisi terbang seperti itu akan menghadapi tipisnya udara yang mampu mengurangi kinerja mesin pesawat terbang dengan menggunakan bahan bakar tradisional.

Namun demikian, drone bertenaga surya seperti CH UAV ini dalam menjalankan tugas dengan baik di udara dan diharapkan bahwa pesawat seperti ini mungkin bisa terbang terus-menerus selam sebulan atau lebih lama di masa depan, ujar Li Guangjia, direktur proyek tersebut.

Rentang saya CH UAV 45 meter,  dilengkapi panel-panel solar. Kondisi ini sangat efisien mengurang biaya tinggi, sebab tidak dibutuhkan mengisi ulang bahan bakar selama misi tersebut, tambah Shi Wen, kepala teknik proyek CH UAV.  Selain itu, pesawat terbang ini memungkinkan tidak terciptanya polusi udara. Dengan kata lain, sangat bersahabat dengan alam, tambah Shi.

Dengan suksesnya uji coba CH UAV ini, maka Cina menjadi negara ketiga di dunia yang mampu membuat pesawat  bertenaga surya dengan kemampuan terbang mendekati ruang angkasa. Dua negara lain adalah Amerika Serikat dan Inggris.

Amerika Serikat telah lebih dulu mengembangkan drone bertenaga surya diberi nama  “Helios” dan drone milik Inggris  bernama  “Zephyr” yang memiliki daya jelajah di ketinggi melebihi  15 km di atas permukaan laut pada tahun 2007.

Sementara tim CH UAV Cina mengatakan, proyek ini mampu menjawab tantangan-tantangan di beberapa bidang teknologi kunci, seperti erodinamis, pengendali terbang dan efisiensi penggunaan sumber energi. Sekitar setahun lebih tim ini mengatasi persoalan pengendalian ketika menghadapi kondisi cuaca yang rumit untuk memastikan penerbangan yang lebih memadai.

Fungsi Ganda

Menurut  rencana proyek, CH UAV akan digunakan sebagai “quasi-satellite” di masa depan, yang mampu menjalankan beberapa fungsi  sebagai satelit telekomunikasi dalam memberikan data sesuai pelayanan yang diberikan.

Pesawat terbang ini juga akan digunakan sebagai  “hub Wi-Fi mobile” dalam memberikan kenyamanan telekomunikasi dan akses internet bagi wilayah-wilayah terpencil dan kepulauan. Teknologi ini akan menghemat  biaya dan konstruksi bangunan  untuk menjalankan telekomunikasi tradisional.

Menurut Shi  Wen , UAV ini juga mampu menggelar survei kehutanan dan pertanian, serta alat peringatan dini dan monitoring langsung terhadap sebuah bencana. “UAV dalam mendukung telekomunikasi yang terputus bila terjadi gempa bumi, banjir dan kebakaran hutan,” tambah Shi. [JX/Xinhua/Eka]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here