Cina Sulit Jaga Keseimbangan Kelahiran Bayi Laki-laki dan Perempuan

(Foto: JX/Ist)

BEIJING, JIA XIANG – Meskipun rasio kelahiran bayi laki-laki-perempuan turun. Namun mempertahankan momentum tersebut  tampaknya  akan menjadi lebih sulit bagi negeri tirai bambu tersebut.

Kawasan Cina daratan mungkin saja mencatat bahwa selama tujuh tahun berturut-turut  turunnya rasio kelahiran – jumlah anak laki-laki lahir untuk setiap 100 anak perempuan – tapi mempertahankan momentum itu akan tetap sangat sulit,  demikian peringatan yang diungkapkan oleh seorang pejabat senior bidang perencanaan penduduk.

Wang Peian, Wakil Direktur Komisi Keluarga Berencana Kesehatan dan Nasional, di Beijing pekan lalu memaparkan sebuah perkiraan yang suram bagi negaranya, China News Service melaporkan.

“Negara ini telah membuat beberapa kemajuan dalam mengendalikan rasio kelahiran jenis kelamin yang tinggi.  Tetapi, dalam pandangan pola perkembangan kependudukan, akan lebih menantang untuk melanjutkan program ini setelah rasio jenis kelamin saat lahir turun sampai batas tertentu,” tegas  Wang.

Cina daratan belakangan ini dikenal sebagai negara yang rasio jenis kelamin dalam kelahiran bayi paling tidak seimbang di dunia. Tetapi ada juga beberapa negara lain di Asia yang sama dialami oleh Cina.

Rasio di Cina tahun lalu tercatat 113,5, yang oleh para ahli demografi disebutkan bahwa rasio normal berkisar pada angka 107.  Karena itu, Wang memperkirakan ketidakseimbangan  antara anak laki-laki dengan perempuan di Cina bisa berlanjut untuk “waktu tertentu”.

“Masalahnya akan tetap menjadi bahaya yang mengintai perkembangan kependudukan dan stabilitas sosial,” tambah Wang.

Meskipun Wang menyalahkan preferensi tradisional untuk anak laki-laki sebagai “alasan mendasar” untuk fenomena tersebut, rasio satu-satunya mulai melambung pada tahun 1982, dari 108,47, ketika bangsa mulai ketat menerapkan kebijakan kontrol kelahiran yang memungkinkan keluarga untuk hanya memiliki satu anak.

Pertanyaan sekarang mengapa anak laki-laki lebih disenangi dibanding perempuan? Hal ini karena  anak laki-laki dianggap bisa bekerja keras dan menjadi kesayangan terkait dengan warisan tanah di daerah pedesaan. Kondisi ini sebenarnya cenderung mendorong aborsi yang lebih selektif, sehingga rasio anak laki-laki di atas 115 sejak tahun 1994.

Rasio anak laki-laki memuncak secara nasional pada tahun 2004 dengan mencapai 121,2 anak laki-laki yang lahir dari setiap 100 anak perempuan. Bahkan di beberapa provinsi mencatat rasio itu mencapai 130.

Untuk itulah pemerintah mengtintervensi dengan melarang setiap rumah sakit menguji  jenis kelamin pada janin atau melakukan aborsi selektif  kecuali memang diperlukan berdasarkan kepentingan medis.

Karena itu, sekarang ada kampanye bertajuk The Care for Girls  yang  diluncurkan untuk mendidik masyarakat tentang pentingnya kesetaraan gender.

Tahun 2009 terjadi titik balik mengenai rasio jenis kelamin pada saat kelahiran,  akibatnya rasio itu menjadi  119,45 – 113,5 tahun lalu, dan kemudian selama tujuh tahun berturut-turut rasio itu menurun.

Para ahli demografi memperkirakan bahwa 20 juta -34 juta  anak laki-laki dibandingkan anak perempuan yang lahir dalam tiga dekade terakhir.

Kekhawatiran soal rasio jenis kelamin ini telah menyebabkan semakin banyak pria lajang yang gagal untuk menemukan pasangan mereka, untuk dijadikan istri, sehingga menimbulkan masalah sosial lain seperti melonjaknya  tindak kejahatan dan kekerasan. [JX/SCMP/Eka]

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here