Dacao’ao, Desa “Perceraian”

Sepasang suami-istri yang mengajukan cerai. (Foto:JX/ist)

DACAO’AO, JIA XIANG – Malang sungguh nasib warga Desa Dacao’ao. Desa ini terancam digusur, bahkan sudah ada sebagian rumah warga yang dibongkar untuk kepentingan pembangunan kawasan industri di tempat tersebut. Namun kompensasi yang diperoleh, rupanya tidak memuaskan warga. Warga menilai kompensasi per keluarga, dianggap tidak adil, dan terlalu kecil. Mereka justru menginginkan hitungan kompensasi per orang.
Karena itu tidak heran bila mereka ramai-ramai mengajukan cerai, hanya untuk bisa mendapatkan kompensasi seperti yang mereka inginkan.
Pada tanggal 19 Mei lalu, Yuan (79 tahun), ditemani dua putranya, dari kawasan barat daya Tiongkok, mengajukan aplikasi cerai kepada pemerintah setempat. Sebenarnya ini sebuah kisah yang memalukan, sekaligus hinaan. Sebab hampir setiap orang di desa ini juga ramai-ramai ingin bercerai, dan mereka melakukannya secara kolektif sebagai upaya terakhir untuk mendapatkan kompensasi yang adil.
Alasan rasional untuk bercerai bergantung fakta yang ada, namun kenyataannya bahwa sebagai keluarga, mereka hanya ingin akan mendapat kompensasi. Jadi kompensasi untuk keluarga, bukan individu.
Dengan memisahkan keluarga mereka atau bercerai, penduduk desa ini berharap bisa mendapat kompensasi lebih besar.
Meskipun tidak diketahui berapa banyak warga yang harus mendapat kompensasi, namun mereka harus melihat kenyataan rumah mereka dirobohkan begitu saja, kemudian diusir. Penduduk desa pun marah.
“Ini tidak adil,” kata seorang nenek penduduk dari Daocao’ao kepada Chuncheng News. “Dan kami belum menerima pemberitahuan sama sekali sampai sekarang.”
Desa Daocao’ao terletak di kawasan Provinsi Yunnan. Di sini tinggal sekitar 1.300 orang. Rumah-rumah di desa ini telah dijadwalkan akan dihancurkan untuk dibuat jalan bagi pembangunan sebuah kawasan industri, Chuncheng Evening News melaporkan, Jumat (20/5/16). Pemberitahuan pembongkaran itu didistribusikan pada 13 Mei, yang isinya memperingatkan warga bahwa penghancuran kawasan mereka akan dilakukan dalam waktu 45 hari.
“Kami pikir kompensasi berdasarkan jumlah rumah tangga tidak adil. Kita tidak akan memiliki perselisihan apapun jika itu didasarkan pada ukuran rumah masing-masing. Tampaknya akan lebih adil bila kompensasi didasarkan pada jumlah orang, bukan berdasarkan keluarga,” ungkap seorang warga bernama Fu.
Tetapi, bila sudah bercerai pun mungkin warga desa tidak bisa mendapatkan kompensasi seperti yang mereka inginkan. Di bagian lain pemberitahuan pembongkaran itu justru bernuansa melarang adanya perceraian dalam kurun waktu pengumuman itu. Tapi tampaknya warga Desa Dacao’ao bersedia terus untuk mencobanya.
“Kita tahu bahwa tidak ada kebijakan yang melarang perceraian dari pemerintahan yang lebih lebih tinggi (Kota Kunming, kotamadya yang menaungi Dacao’ao). Larangan itu hanya kebijakan lokal,” kata seorang warga yang tidak disebutkan namanya oleh media. “Bahkan beberapa pasangan yang dalam proses perceraian tidak dapat membagi rumah tangga mereka. Satu-satunya hal yang bisa kita lakukan sekarang adalah untuk bertahan.” [JX/theeppochtimes/Eka]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here