Daya Saing yang Kuat

Perhelatan pameran kerajinan Indonesia  atau disebut CRAFINA 2013,  Rabu (20/11/13) digelar lagi. Pameran ini adalah ajang mempromosikan produk-produk kerajinan Indonesia, sekaligus peluang untuk mengembangan bisnis para produsen terutama bagi usaha kecil dan menengah.

Selain itu, yang paling diharapkan dari CRAFINA ini adalah produk kerajinan ini bisa member kontribusi positif bagi pengembangan bisnis itu.  Industri kerajinan pada dasarnya sama perannya dengan bidang lain yaitu menjadi pilar penyangga ekonomi  negeri ini. Karena itu, sepatutnya industri kerajinan  diapresiasi oleh semuya pihak.

Seberanya melalui pameran ini, bisa bermunculan produk-produk yang mempunyai ciri, kekuatan, kekhasan , dan kemampuan bersaing di pasar domestik dan internasional. Untuk itu, para perajin dan pengusaha sama-sama mempunyai kewajiban untuk mengeksplorasi bukan saja kemampuan dan keahlian menelorkan produk berkualitas, tetapi juga  menerjemahkan kekayaan alam dan budaya Indonesia menjadi barang berkualitas.

Mungkin untuk menelorkan produk berciri khas Indonesia yang berkualitas bukan hal sulit. Dipastikan, para pengrajin dan pengusaha mampu membaca kemauan atau kecenderungan pasar.  Tetapi persoalannya, setelah barang diproduksi, lalu apa yang dilakukan?  Barang yang sudah duproduksi itu harus mempunyai nilai jual dan bersaing baik di tingkat local maupun internasional.  Artinya  produk dalam negeri ini harus menguasai pasar lokal.

Pemerintah tidak bisa membiarkan pasar domestic dikuasai oleh produk luar negeri. Adanya kebijakan yang memproteksi keunggulan produk lokas akan semakin merangsang para produsen, khususnya industri kerajinan, lebih mengembangkan diri. Sementara di tingkat internasional, kembali pemerintah sepatutnya  mendorong, membekali, membimbing, bila perlu  membuka jalan supaya produk dalam negeri ini mempunyai kekuatan bersaing di pasar internasional. Pemerintahlah harus memutar otak alias bekerja keras memikirkan hal itu.

Perlu diingat adalah di era globalisasi dan pasar bebas saat ini, faktor daya saing menjadi kunci. Bagi mereka yang tidak mampu bersaing, otomatis akan tersingkir. Dan hanya mereka yang kuat mampu menggilas si lemah. Karena itu, selama produk  kerajinan kita masih dalam posisi lemah, jangan sekali-sekali masuk ke pasar dunia.

Alangkah baiknya  bila pemerintah bersama para pelaku bisnis industri kerajinan ini  sama-sama bersepakat menentukan  fokus , mengembangkan pasar domestik atau internasional.  Idealnya memang kedua pasar ini harus digarap, tetapi ada prioritasnya. Sebut saja pasar domestik dulu, baru luar negeri.

Di pasar domestik, kita harus kuat. Sebab dari jumlah penduduk kita cukup besar.  Untuk kawasan Asia Tenggara  misalnya, total jumlah penduduknya sekitar 600 juta. 60 persen dari jumlah itu adalah penduduk Indonesia. Di Cina juga seperti itu, pasar domestik mereka begitu kuat, sehingga beberapa produk tertentu, menjadi tuan rumah di dalam negeri sendiri. Kita harus belajar dari pengalaman negara tetangga kita.

Karena itu, jumlah penduduk Indonesia adalah pasar potensial, bila tak digarap serius, negara di Asia Tenggara atau negara lainnya menguasai pasar kita, hal ini yang terjadi dengan produk Cina, sudah banjir di Indonesia. Kita harus siap dengan peluang pasar ini.

Untuk memperkuat pasar domestik, peningkatan daya saing mutlak dilakukan. Daya saing yang tinggi diperkirakan memperkokoh ketahanan ekonomi nasional, dan ujungnya terciptanya industri dalam negeri tangguh dan maju. Untuk mencapai titik itu, pemerintah dan pengusaha, dan perajin, tidak bisa bekerja sendiri-sendiri, tetapi harus saling menopang, sehingga menjadi satu barisan yang kuat, sebelum maju menembus pasar global bersama-sama.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here