Delapan Dewa Rezeki Cai Shen Yang Dipercaya Etnis Tionghoa (2)

B. Dewa Rezeki Sipil, disebut Wen Cai Shen
1. Cai Bo Xing Jun
Nama aslinya adalah Li Gui Zu. Lahir di Distrik Zichua, Provinsi Shandong, Tiongkok pada tanggal 17 bulan 9 Imlek. Li Gui Zu menjadi menteri di pemerintahan Kaisar Xiaowen pada masa Wei Utara. Dia berjasa besar pada masyarakat, seperti mengeruk sungai, mengontrol kadar garam dalam air, bahkan memberikan gajinya untuk menolong orang miskin. Dia sosok yang dicintai rakyat banyak, sehingga orang-orang membangun kuil untuknya setelah meninggal.Dewa-Rezeki-Cai-Bo-Xing-Jun-Tionghoa
Kebaikan-kebaikannya banyak tercatat, sehingga Li Gui Zu dianugerahi berbagai gelar oleh para pejabat, salah satunya dari Kaisar Wu De era Dinasti Tang (619 M) menganugerahi gelar Cai Bo Xing Jun (Dewa Kemakmuran) pada tahun pemerintahannya yang ke 2. Cai Bo Xing Jun adalah Cai Shen yang paling sering dimunculkan dalam ilustrasi berbentuk patung atau lukisan. Dia juga sering dianggap sebagai Zhao Gong Ming atau Bi Gan.
Dikatakan bahwa Cai Shen sebenarnya adalah utusan Kaisar Langit, yaitu Taibai jinxing; yang dikirim ke dunia untuk menolong umat manusia. Tugasnya adalah mengatur harta kekayaan di dunia. Festivalnya dirayakan setiap tanggal 22 bulan 7 Imlek. Sebagaimana Bi Gan dan Fan Li, dia digolongkan sebagai salah satu Dewa Rezeki Sipil atau Wen Cai Shen.
2. Fan Li
Fan Li adalah seorang ahli politik dan pernah menjabat Menteri di Kerajaan Yue pada masa Negara-Negara berperang Zhan Guo. Fan Li memiliki jasa yang sangat besar dalam membantu Raja Yue mengalahkan Kerajaan Wu.Dewa-Rezeki-Fan-Li-Tionghoa
Setelah mengalahkan Kerajaan Wu, Fan Li melepaskan jabatannya sebagai menteri dan menjadi pedagang yang sukses dengan mengganti namanya menjadi Tao Zhu Gong. Fan Li dikagumi para pedagang karena kemampuan berbisnisnya yang hebat. Fan Li juga merupakan seorang dermawan dan suka membantu orang-orang miskin. Karena itu, Fan Li dikenal sebagai salah satu Dewa Rezeki Sipil atau Wen Cai Shen.
3. Bi Gan
Bi Gan adalah seorang menteri di masa Dinasti Shang dan juga anggota keluarga kerajaan. Dia adalah putra Wen Ding, keturunan Zi, dan merupakan keluarga kerajaan, yaitu paman dari Raja terakhir Dinasti Shang yang bernama Zhou Xin. Bi Gan yang setia menasehati Raja Zhou dari Shang untuk tidak bertindak kejam terhadap rakyatnya dan berharap agar Raja Zhou dapat rajin mengurusi urusan kerajaan.Namun nasehatnya itu tidak di dengar, dan malah dibenci oleh sang Raja.
Hingga akhirnya Daji, selir kesayangan Raja Zhou, berkata dia ingin membuktikan kebenaran pepatah kuno Tiongkok yang berbunyi bahwa “jantung seorang pria yang baik memiliki tujuh lubang”. Bi Gan kemudian dieksekusi dengan jalan jantungnya dikeluarkan. Beruntung nyawa Bi Gan dapat diselamatkan oleh Jiang Zi Ya.Dewa-Rezeki-Bi-Gan-Tionghoa
Kecewa dengan perpolitikan di kerajaan, akhirnya Bi Gan memilih mundur dari jabatannya dan membagikan semua harta kekayaannya kepada rakyat. Bi Gan dipercaya oleh pedagang karena kejujuran dan keadilan. Bi Gan divisualisasikan berpakaian pejabat sipil Tiongkok kuno, lengkap dengan topi khas dan jubah bermotif, membawa batangan emas serta tongkat Ruyi (tongkat berbentuk seperti huruf S dan terbuat dari giok) yang konon dapat mengubah batu dan besi menjadi emas. Bi Gan dikenal sebagai salah satu Dewa Rezeki Sipil atau Wen Cai Shen.
Kisah Bi Gan dan Daji, Selir Raja Zhou yang kejam
Jiang Ziya, yaitu Perdana Menteri Raja muda Wen, meramalkan melalui tulang orakel bahwa Bi Gan, seorang menteri yang setia dan berbudi di istana Raja Zhou akan segera meninggal. Dia segera memberikan jimat kepada Bi Gan serta mengatakan beberapa nasihat.
Tulang orakel adalah kepingan tulang atau cangkang kura-kura yang dipanaskan lalu dipecahkan dengan tongkat sewaktu akan meramal. Pada suatu malam, Raja Zhou mengadakan perjamuan dengan mengundang beberapa tamu. Bi Gan merasa ada sesuatu yang aneh, meskipun awalnya dia tidak tahu bahwa tamu-tamu tersebut sebenarnya adalah para siluman rubah, rekan-rekan dari Daji, selir Raja Zhou.
Dalam perjamuan para tamu tersebut menjadi mabuk, dan tanpa sengaja Bi Gan melihat salah satunya mengeluarkan ekor rubah dari balik bajunya. Bi gan segera memanggil prajurit untuk mengikuti siluman-siluman tersebut saat kembali ke sarangnya kemudian membunuh mereka semua. Dia membuat sebuah jubah dari kulit mereka, yang kemudian dipersembahkan kepada Raja Zhou. Daji yang melihat jubah tersebut menjadi ngeri dan bersumpah akan membalas dendam kepadanya.
Tak lama kemudian, Daji berkata kepada Raja Zhou bahwa dia terkena serangan jantung, dan hanya “jantung lembut berlubang tujuh” yang dapat menyembuhkannya. Pada waktu itu tidak ada seorang pun di dalam istana yang memiliki jantung semacam itu, kecuali Bi Gan yang dianggap/diyakini sebagai orang suci.
Bi Gan yang telah menelan jimat dari Jiang Ziya kemudian mengeluarkan jantungnya sendiri untuk dipersembahkan kepada Raja Zhou. Namun Bi Gan tidak meninggal, bahkan tidak ada darah yang menetes. Sesuai nasihat Jiang Ziya, dia diharuskan untuk segera pulang ke rumahnya dan tidak boleh menoleh ke belakang.
Setelah dekat dengan rumahnya, seorang penjual wanita berseru dari belakang, ‘Hey! Jual sawi putih murah tanpa akar!’ Bi Gan yang penasaran kemudian menoleh dan bertanya, “Bagaimana mungkin ada sawi putih yang tidak memiliki akar?”
Wanita tersebut menyeringai kemudian menjawab, “Anda benar, Tuan. Sawi putih tidak dapat hidup tanpa akar, sebagaimana manusia tidak dapat hidup tanpa jantung. Bi Gan berteriak keras, kemudian jatuh dan meninggal. Wanita tersebut segera melesat pergi dalam wujud aslinya, yaitu siluman pipa (alat musik) dari giok.
Setelah perang antara Dinasti Shang dan Zhou berakhir, Jiang Ziya melakukan ritual pengangkatan para Dewa. Bi Gan akhirnya dianugerahi gelar Wen Qu Xing Jun.
C. Cai Shen dalam kepercayaan Buddhisme
Budai rupangnya sangat terkenal dan mudah dikenali. Dia selalu divisualkan dengan ekspresi gaya sedang tertawa, mengenakan jubah Biksu yang tidak dapat menutupi perutnya yang buncit, dan sedang menggenggam atau memakai sebuah tasbih.
Terkadang sering digambarkan dengan dikelilingi anak-anak, atau membawa kepingan uang, atau sebuah kantong (karena itu dia disebut “Budai” yang berarti “kantong”). Dia merupakan salah satu Biksu Buddha di Tiongkok yang dipercaya merupakan reinkarnasi dari Bodhisatwa Maitreya. [JX/Tionghoa.info/Eka]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here