Deteksi Perubahan Iklim Buatan Manusia

(Foto: JX/NASA)

WASHINGTON, JIA XIANG – Sebuah laporan ilmiah baru menemukan bahwa perubahan iklim buatan manusia memainkan peranan. Hal ini terlihat  dalam dua puluhan peristiwa cuaca ekstrem tahun lalu, tapi tidak dalam kondisi cuaca lain di seluruh dunia, demikian sebuah laporan  ilmiah terbaru dari Badan Kelautan dan Atmosferik Nasional (NOAA).

Laporan tahunan NOAA di Amerika Serikat, pertengahan pekan lalu, yang diterbitkan dalam Bulletin of the American Meteorological Society,  menemukan bahwa perubahan iklim merupakan faktor, baik kecil maupun besar, dalam 24 dari 30 kondisi cuaca yang aneh. Kondisi itu termasuk 11 kasus panas tinggi, dan cahaya matahari di musim dingin yang tidak biasa di Inggris, kebakaran hutan di Alaska dan banjir pada “hari-hari cerah” yang ganjil di Miami.

Studi itu mendokumentasikan cuaca akibat perubahan iklim di Alaska, negara bagian Washington, bagian tenggara AS, Kanada, Eropa, Australia, Cina, Jepang, Indonesia, Sri Lanka, wilayah topan di bagian barat utara Pasifik, India, Pakistan, Mesir, Ethiopia, dan Afrika bagian selatan.

Dalam enam kasus, termasuk cuaca dingin tiba-tiba di Amerika Serikat dan hujan besar di Nigeria dan India, para ilmuwan tidak mendeteksi dampak perubahan iklim. Namun ilmuwan lain menyanggah temuan itu untuk cuaca dingin tiba-tiba di bagian timur laut.

Para ilmuwan menyoroti  banjir di Miami pada September 2015 yang disebabkan oleh peningkatan permukaan laut dan penurunan permukaan tanah, sehingga gelombang tinggi ekstrem membanjiri jalanan dengan air setinggi 56 sentimeter.

Banjir itu luar biasa karena tidak ada sepotong awan pun di angkasa, dan jenis-jenis banjir ini menjadi semakin sering.

Laporan itu juga menemukan bahwa peningkatan aktivitas dan kekuatan topan tropis di bagian barat Pasifik sebagian bisa dipersalahkan atas perubahan iklim dan sebagian lagi karena El Nino, fenomena cuaca alam yang sekarang sudah berlalu. Namun penguatan badai yang serupa belum terlihat meningkat di sekitar AS.

Profesor meteorologi dari Columbia University, Adam Sobel, memuji studi ini namun menekankan bahwa penelitiannya belum komprehensif,  karena tidak mempelajari semua kondisi ekstrem cuaca. [JX/VOA/Eka]

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here