Di Cina, Anak Usia 8 Tahun Dianggap Mampu Menghina Pahlawan

(Foto: JX/Ist)

BEIJING, JIA XIANG – “Orang-orang yang merusak nama, potret, reputasi dan kehormatan pahlawan dan martir”  harus dapat bertanggung jawab atas perbuatannya itu, demikian kantor berita Xinhua  memuat kebijakan baru  untuk menghormati para pahlawan dan martir di negara itu, awal pekan lalu. Kebijakan ini merujuk pada  pasal tambahan dari rancangan hukum perdata baru di Cina.

Xinhua juga mencatat bahwa rancangan undang-undang ini juga akan menyebutkan anak-anak minimal berusia 8 tahun sudah  “mampu  melaksanakan UU sipil,”. Sebelumnya UU itu menetapkan batas minimal usia adalah 10 tahun.  Pada rancangan naskah awal justru dicantumkan usia minimal 6 tahun dikategorikan mampu  menghujat  nama para martir Partai Komunis.

Partai Komunis China (PKC) menjaga sejarahnya sangat erat, bahkan dengan sangat hati-hati melukiskan  peristiwa penggulingan orang-orang pendukung republik Cina dan para pemimpinannya.

Tanpa menyebutkan nama, Xinhua mengutip pejabat itu yang mengatakan, “orang-orang tertentu telah mencemarkan nama baik dan menghina pahlawan dan martir melalui memutarbalikan kebenaran dan memfitnah, merugikan kepentingan umum dan  berdampak sosial yang merugikan.”

PKC menghindari  yang menghindari sebuah diskusi seperti di masa lalu, namun lebih memilih untuk mengembang  keterangan melalui narasi dan individu. Juli lalu, Zhang Shujun,  Pusat Penelitian Sejarah PKC  mengumumkan inisiatif penelitian untuk “menaklukkan opini publik melalui cara-cara persuasif dan cerita-cerita inspiratif mengenai prestasi LKC,” demikian dimuat di dalam Global Times.

Dalam propagandanya, PKC telah menggabungkan nama-nama pahlawan dengan pesan ideologis revolusi masing-masing, perjuangan kelas, dan para loyalis  PKC yang  sangat diperlukan untuk kelangsungan hidup Cina.

Salah satu dari nama itu ialah Lei Feng, orang yang lahir dari latar belakang kelas yang sangat baik dan selama hidupnya yang singkat dengan dedikasi tanpa pamrih kepada pemimpin komunis Mao Zedong.

Meskipun sebagian cendekiawan skeptis terhadap dedikasinya dan bahkan tentang keberadaannya, Lei masih memiliki hari libur resmi,  yaitu  “Belajar dari Lei Feng Day,” sebagai langkah untuk menghormatinya. [JX/theepochtimes/Eka]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here