Diselimuti Saling Percaya

Oleh: Iman Sjahputra

Pilkada DKI Jakarta tampaknya akan menjadi “pertarungan” yang sangat seru dan menarik. Menarik, ya sudah pasti.. sebelum dan pada masa kampanye saja, bila kita ikuti, dapat kita temui peristiwa-peristiwa yang  muncul. Mulai dari “serangan” ke gubernur petahana, termasuk ke persoalan pribadi, sampai kepada munculnya persoalan yang melebar ke hal-hal lain terkait Presiden Joko Widodo.

Berbagai spekulasi pun bermunculan. Apalagi setelah penetapan gubernur petahana sebagai tersangka terkait kasus dugaan penistaan agama, maka tampaknya eskalasi “persaingan” pun makin seru.  Yang lebih seru, suasana bukan makin dingin, tetapi justru lebih sulit diterka.

Yang pasti pilkada di DKI ini, tampaknya mengambil porsi lebih besar dibanding pilkada di daerah lain. Bahkan perhatian, emosi dan tenaga kita pun terkuras hanya untuk memperhatikan perkembangan Pilkada DKI.

Artinya tidak sedikit yang memperhatikan perkembangan pilkada ini, bukan hanya kita orang awam, tetapi para pakar, tokoh, ilmuwan, bahkan bermunculan mereka yang menamakan diri “pengamat”, “pemerhati”. Bahkan media asing pun ikut meramaikan pemberitaan seputar pilkada ini.

Cerita pilkada ini bertambah seru dengan beredarnya  aneka hasil survei elektabilitas para calon gubernur DKI. Hasil survei ini saja, sudah menjadi berita yang sangat dan teramat seru. Walau pun banyak yang berpandangan bahwa hasil survei ini bisa “diatur” sesuai dengan pesanan. Terlepas dari pesanan atau tidak, yang pasti suasana pemilihan ini menjadi bertambah seru saja.

Sementara, peran media sosial juga begitu dahsyat. Sebab segala persoalan entah terkait Pilkada, atau katakan mengenai Ahok, berujung menjadi polemik di antara para netizen yang entah dengan akun milik sendiri  atau bukan, untuk saling lempar pendapat. Tidak sedikit “gayung bersambut”  itu menjurus kepada hal-hal yang tidak mengenakan untuk dibaca.

Pertanyaannya sekarang, apakah kita mau terus hidup dalam kondisi yang seperti itu, sebab apa pun dampak yang muncul akibat dari sisi lain persoalan pilkada ini. Tentu semua akan menjawab secara kompak,  tidak.

Jadi, sekarang diharapkan semua pihak mau ikut mendinginkan suasana. Tanggungjawab untuk mendinginkan suasana ini juga diharapkan muncul dari kalangan masyarakat sendiri, terutama yang ada di Jakarta. Sebab keberhasilan pilkada, berjalan lancar, aman, dan tertib akan mungkin terselenggara bila suasananya pun dalam damai, tanpa curiga, bersahabat, dan saling percaya.

Tetapi bila tidak ada unsur-unsur moral tersebut, maka sampai kapan pun suasana politik, tetap akan terus “panas”. Dan bukan tidak mungkin penyelenggaraan pilkada pun bisa terganggu. Untuk itu, mari kita jaga suasana kehidupan berbangsa dan bernegara di Ibu Kota ini agar diselimuti rasa saling percaya, saling menghargai, menghormati, dan penuh cinta kasih.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here