Dukungan Selesaikan Konflik Laut Cina Selatan

Oleh : Iman Sjahputra

Dalam lawatan Wakil Presiden Amerika Serikat, Mike Pence, ke Indonesia, banyak hal yang dibahas dan dibicarakan. Banyak hal pula yang disepakati kedua negara. Diantara banyak bidang yang diperbincangkan antara Pence dengan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla,  salah satunya adalah mengenai stabilitas dan keamanan kawasan khususnya di Laut Cina Selatan.

Bahkan dalam pertemuan dua wakil presiden, Pence dengan Jusuf Kalla dicapai kesepakatan,  bahwa AS bersama Indonesia  harus ikut menciptakan perdamaian di kawasan yang diperebutkan oleh beberapa negara ASEAN dan Cina.

Memang di kawasan yang sampai kini selalu diwarnai ketegangan antarpihak yang berkepentingan. Bahkan beberapa peristiwa mengarah pada terjadinya bentrokan militer. Namun kondisi lingkungan itu bisa dikendalikan kembali oleh masing-masing pihak. Paling tidak itulah suasana di Luat Cina Selatan di mana ketegangan selalu naik-turun, bahkan tidak sedikit sudah mengarah ke benturan militer.

Sudah sejak lama memang Indonesia berusaha menjaga agar tercipta lingkungan yang damai di kawasan itu. Perjuangan Indonesia bukan hanya melalui jalur regional seperti ASEAN, tetapi berbagai forum internasional, dan tidak sedikit  lewat saluran atau pendekatan multilateral. Indonesia bertemu semua pihak, terutama terkait di negara-negara anggota ASEAN, bahkan Indonesia juga mendekati Cina, yang tampaknya lebih agresif untuk menguasai Laut Cina Selatan.

Artinya memang pendekatan diplomasi harus selalu dikedepankan, untuk tercipta penyelesaian yang damai tanpa benturan apa pun.

Dengan kata lain, menjaga stabilitas kawasan perairan itu bukan semata urusan dan tanggungjawab Indonesia saja, tetapi semua pihak, terutama mereka yang berkepentingan atau berkonflik. Indonesia tidak bisa serta-merta berinisiatif untuk menjaga stabilitas kawasan. Tanpa ada keterlibatan semua pihak berkepentingan, maka upaya dan langkah Indonesia akan sia-sia.

Kita semua memang harus mau menjaga perdamaian di kawasan Laut Cina Selatan. Mengapa? Ya..karena memang kawasan itu adalah salah satu jalur utama perdagangan bagi banyak negara. Ini bukan semata kepentingan negara berkonflik, tetapi negara-negara besar seperti Amerika Serikat pun berkepentingan di dalamnya.

Tidak heran bila dalam lawatan ke Indonesia, AS pun bertekad menjaga perdamaian dan keamanan kawasan itu. Tekad dan kebijakan AS itu sudah terlihat lama, sejak Presiden Barack Obama menarik pasukannya  di Timur Tengah kemudian di pindahkan dalam jangka panjang ke Australia. Kemudian diitensifkan langkah patroli di Asia Pasifik, yang bukan semata atas Keprihatinan pada Korea Utara saja, tetapi justru AS ingin memastikan pula jalur perdagangan di Laut Cina Selatan tidak terganggu oleh siapa pun.

Tidak heran bila Mike Pence menyebutkan  ingin menjaga stabilitas dan keamanan di Laut Cina Selatan. Apalagi AS menginginkan Pemerintah Indonesia aktif mendorong perundingan dalam penyelesaian kerangka kerja tata perilaku (Code of Conduct/CoC) yang sudah sekian tahun selalu dan selalu dibahas di lingkungan ASEAN.

Diakui sampai kini antara ASEAN dan Cina sulit mencapai kesepakatan penuh. Tetapi ada sedikit kemajuan soal pembahasan kerangka kerja CoC yang dilakukan Kelompok Kerja Bersama ASEAN-Cina untuk Implementasi Deklarasi Pihak-pihak dalam Sengketa Laut China Selatan (DoC). Tepatnya kesepakatan itu dicapai di di Bali pada 27 Februari 2017.

Harapannya kesepakatan ini diharapkan bisa menjadi dasar  untuk menghasilkan CoC yang menjadi aturan tata perilaku di perairan yang disengketakan.

Secara tidak langsung AS menggantungkan harapan pula bahwa  nasib Laut Cina Selatan tidak semata pada Indonesia saja, tetapi banyak negara lain yang berkepentingan.  Sekali lagi, Indonesia tidak bisa bekerja sendiri. Indonesia perlu dukungan yang kuat terutama di lingkungan ASEAN.

Organisasi di Asia Tenggara ini harus kuat dan satu kata dalam menghadapi negara sebesar Cina, yang selalu ingin menyelesaikan konflik Laut Cina Selatan secara bilateral, tak mau multilateral. Untuk itulah dorongan dan desakan pihak luar ASEAN, seperti AS dan negara lain,  juga diperlukan dalam menciptakan opini dalam yang lebih menohok dalam memperjuangkan kedaulatan negara-negara berkonflik atas wilayah mereka masing-masing.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here