Enam Bulan Pertama 2016, Tahun Terpanas Bumi

(Foto: JX/theepochtimes)

NEW YORK, JIA XIANG – Enam bulan pertama tahun 2016 ini menjadi tahun terpanas bumi, demikian laporan dari Organisasi Meteorologi Dunia yang dikeluarkan, Kamis (21/7/16) di New York, Amerika Serikat.Menurut badan PBB itu, bulan Juni 2016 adalah bulan ke-14 berturut-turut rekor panas sekitar planet Bumi dan bulan ke-378 berturut-turut dengan suhu rata-rata di atas catatan abad ke-20.
Organisasi itu menjelaskan, pemanasan global menyebabkan konsentrasi karbon dioksida, sejauh tahun ini, telah melampaui tonggak simbolis 400 ppm (parts per million) di atmosfer.
“Bulan lain, rekor lain, rekor lain, dan rekor lain. Dekade panjang dari tren perubahan iklim mencapai klimaks baru, didorong oleh El nino 2015/2016 yang kuat,” kata Sekjen Petteri Taalas, Organisasi Meteorologi Dunia, dalam sebuah pernyataan. “Ini menggarisbawahi kondisi lebih mencolok dibanding sebelumnya, dan ini menjadi kebutuhan untuk menyetujui dan melaksanakan Perjanjian Paris tentang perubahan iklim.”
Laporan ini menjelaskan bahwa suhu panas telah mengakibatkan timbulnya, lebih awal, mencairnya lapisan es besar dengan bongkahan es Laut Arktik. Pencairan musiman ini mencakup sekitar 40 persen lebih sedikit selama pencarian musim panas dibanding kejadian serupa pada tahun 1970-an.
Kondisi panas mengakibatkan malapetaka dengan kondisi cuaca di banyak daerah, termasuk Amerika Serikat, mengalami kekeringan. Sementara di Tiongkok, Eropa tengah dan sebagian besar wilayah Australia justru mengalami basah daripada cuaca biasa.
Panas yang meningkat juga mengakibatkan meluasnya terumbu karang berubah menjadi putih di seluruh dunia, dan sekaligus mengancam ekosistem laut, kata laporan itu. Menurut angka NASA yang dikutip dalam laporan itu, pada semester pertama tahun 2016, rata-rata 2,4 derajat (1,3 C) lebih hangat daripada di akhir abad ke-19, sebelum era industrialisasi.
Pada hari Rabu (20/7/16), Segolene Royal, yang memimpin perundingan iklim global, mengatakan bahwa mereka ingin negara-negara meratifikasi Perjanjian Iklim Paris sebelum pembicaraan iklim global bertemu lagi di Maroko pada awal November tahun ini.
Perjanjian ini akan mulai berlaku setelah 55 negara telah meratifikasinya, sejauh ini hanya baru 19 negara yang meratifikasinya. [JX/theepochtimes/Eka]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here