Energi Positif

Beberapa minggu belakangan ini buruh turun ke jalan. Mereka menuntut perbaikan hak . Tetapi bila disimak tujuan demo buruh ini tampaknya bukan lagi untuk memperjuangkan hak-hak, tetapi untuk bisa saja untuk tujuan tertentu.

Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) sendiri menilai bahwa unjuk rasa itu sudah merugikan masyarakat, termasuk buruh dan perusahaan tempat mereka bekerja.  Karena itu, muncul anggapan bahwa aksi yang digelar itu menimbilkan banyak penilaian, bisa dilatarbelakangi atau atas dasar uang, dan mungkin juga ada pihak-pihak tertentu yang mendompleng kondisi ini untuk “memukul” pihak-pihak tertentu di negeri ini.

Sebenarnya banyak saluran yang bisa dipakai untuk memperjuangkan hak dan kepentingan buruh. Saluran itu bisa di internal perusahaan atau pihak lain secara eksternal hingga ke jalur formal seperti Dewan Pengupahan sebagai lembaga yang dianggap terbuka, demokratis, transparan, obyektif dalam memperjuangkan hak buruh seperti kenaikan upah minimum.

Kondisi seperti ini, unjuk rasa di jalan sambil meninggalkan tempat kerja, sebenarnya adalah sikap yang sesungguhnya tidak perlu dilakukan, hanya menghabiskan tenaga atau energi. Lebih baik manfaatkan lembaga yang ada itu, seperti Dewan Pengupahan, Serikat Pekerja, dan organisasi-organisasi profesi lain.

Kalau menggunakan istilah Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Muhaimin Iskandar, energi untuk demo bisa digunakan lebih produktif  untuk memajukan perusahaan dan meningkatkan kesejahteraan pekerja.

Tetapi apa mau dikata, tampaknya berdemonstrasi, mungkin adalah upaya yang lebih menarik. Beramai-ramai, bisa sampai ribuan jumlahnya, memadati ruas jalan, bersorak, bernyanyi, berorasi, dan aksi massal ini pasti menarik bagi media. Apalagi sampai menutup jalan atau fasilitas umum, bagi mereka mungkin langkah pamungkas.

Pernahkah terpikir, berapa besar kerugian yang ada di depan mata saat itu.  Buat para buruh, tidak bekerja satu hari, mungkin tak masalah, tetapi bagi masyarakat yang terganggu atau terhambat di jalan akibat ulah unjuk rasa itu, berapa besar waktu terbuang, berapa besar nilai rupiah yang terbuang percuma?

Secara umum unjuk rasa buruh ini sebenarnya bisa dikatakan bukti dari belum terciptanya suasana kerja yang baik. Pihak manajemen perusahaanlah yang mungkin bisa menjawab ini. Tetapi, sekali lagi, tetapi, manajemen perusahaan yang juga sepatutnya “jemput bola” mencegah hal ini terjadi.

Bagaimana caranya? Dialog.  Walaupun pemerintah juga  berupaya mencari solusi terbaik untuk semua pihak, terutama dalam proses penetapan upah minimum, dialog antara manajemen perusahaan dengan buruh, tenaga kerja secara keseluruhan, harus tercipta secara sehat dan terbuka.

Pengusaha tidak bisa memandang buruh atau tenaga kerja sebagai “mesin” produksi semata. Dan Tenaga kerja juga tidak bisa begitu saja menuntut hak secara sepihak, semua harus didialogkan bersama. Yang pasti buruh atau tenaga dan manajemen perusahaan, sama-sama aset yang harus dipelihara.

Tanpa dipelihara, aset ini akan terbengkelai, operasi perusahaan pun tersendat. Ujung-ujungnya, sama-sama rugi.
Karena itu, kembangkanlah dialog yang sehat dan terbuka dengan berbagai pihak dalam membahas persoalan di lingkungan perusahaan.  Proses dialog,  antara serikat pekerja, pemerintah, dan pengusaha melalui dalam forum Tripartit Nasional, adalah langkah yang  paling dapat dimanfaatkan.

Dengan terciptanya dialog yang sehat, maka diharapkan dapat mencegah dan menghindari banyak hal baik intern maupun ekstern perusahaan.  Bahkan secara umum, kondisi ini bisa memperbaiki iklim kerja dan keamanan berusaha di dalam negeri. Orang luar pun akan menilai positif dunia usaha Indonesia. Jangan kita hanya berpikir untuk kepentingan sendiri dan sesaat. Bangunlah negara ini, bangunlah bangsa ini. [Edwin Karual]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here