Etnis Tionghoa di Panggung Politik Jambi

Jia Xiang-Jelang Pemilu Legislatif 9 April 2014, sedikitnya 10 orang etnis Tionghoa di Provinsi Jambi, terdaftar sebagai calon anggota legislatif (caleg) dari partai politik berbeda. Mereka diantaranya Rudi Attan, Veronika, Yenny, dan Budiatko.
Rudi Attan dan Budiatko menjadi caleg DPRD Provinsi Jambi daerah pemilihan (dapil) Kota Jambi dari Partai Gerindra. Sedangkan Veronika adalah caleg DPRD Provinsi Jambi dapil Kota Jambi dari PDI Perjuangan. Sementara Yenny, maju sebagai caleg DPRD Kota Jambi dapil Kecamatan Pasar dan Jelutung Kota Jambi.
Sebelumnya, hasil Pemilu 2009 lalu mengantarkan dua tokoh muda etnis Tionghoa duduk sebagai anggota DPRD Kota Jambi periode 2009-2014. Mereka adalah Benny Lestio (Wartawan) dan Budiatko (Pengusaha).
“Panggung politik sekarang sudah terbuka bagi semua etnis, termasuk Tionghoa. Demokrasi di Indonesia sudah mulai maju. Tak lagi tabu bagi etnis Tionghoa, makanya saat ini kader-kader dari etnis Tionghoa di Jambi tak lagi segan-segan terjun ke dunia politik,” kata Benny Lestio, anggota DPRD Kota Jambi kepada Jia Xiang Hometown, Senin (16/9/13).
Sementara itu, menurut Budiatko, jumlah warga Tionghoa di Kota Jambi cukup signifikan untuk mengantarkan beberapa kader etnis Tionghoa ke kursi legislatif setempat. Buktinya, pada Pemilu 2009, Budiatko dan Benny Lestio terpilih menjadi anggota DPRD Kota Jambi dari partai berbeda.
“Tentu saja keberadaan kami di legislatif, merupakan representase etnis Tionghoa di Jambi. Sudah menjadi tugas dan tangggung jawab kami menyuarakan aspirasi konstituen kami di legislatif. Terutama menyangkut kebijakan strategis pemerintah daerah,” kata Budiatko.
Menyikapi perkembangan politik terkini, Ketua Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia (Matakin) Provinsi Jambi, Darman Wijaya, menilai hadirnya tokoh muda etnis Tionghoa di Jambi dalam dunia politik daerah, menjadi nilai tambah positif dalam proses pembelajaran politik dan demokrasi bagi etnis Tionghoa.
“Selama ini, etnis Tionghoa lebih banyak berada di luar sistem. Lebih banyak dikenal sebagai pengusaha atau pedagang. Perubahan kondisi dalam dunia politik ini, menjadi sesuatu yang positif bagi demokrasi di Indonesia. Tidak ada lagi diskriminasi etnis dalam dunia politik di Jambi,” kata Darman Wijaya. (Lee/U1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here