Film “Kartini” Ajak Memaknai Sikap Sang Pejuang Emansipasi Perempuan

Para pemain film "Kartini". (Foto: JX/Dimas Parikesit)

YOGYAKARTA, JIA XIANG – Hari Kartini ini ternyata terus menginspirasi pegiat perfiman di Tanah Air. Tahun ini, pada Senin (17/4/17) atau empat menjelang Hari Kartini yang diperingati setiap tanggal 21 April, satu karya film bertema female empowerment mulai ditayangkan.

Khusus di CGV Blitz Hartono Mall Yogyakarta, pemutaran film berjudul “Kartini” juga diikuti serangkaian acara seperti meet n great with the cast yang dihadiri oleh Dian Sastrowardoyo, Ayushita, dan Denny Sumargo. Di sini, para penonton pun berkesempatan foto bersama dengan para artis dan aktornya.

Diproduksi oleh Legacy Pictures berkolaborasi dengan screenplays Production, Robert Ronny selaku produser serta Hanung Bramantyo sebagai sutradara, film ini mengajak masyarakat untuk membuka mata mengingat tentang Kartini sosok seorang perempuan Jawa dengan gejolak batin serta kehidupannya sebagai pejuang yang dianggap sudah meluntur bahkan terlupakan.

Robert Ronny, sang produser, mengemukakan, “ Selama lebih dari dua tahun kita khusus riset tentang Kartini, banyak hal yang cukup mengejutkan yang orang tidak tahu tentang Kartini selama ini.”

Sebutan Ibu Kartini,  menurut dia, kurang tepat ternyata sosok Kartini ini meninggal dunia pada usia yang sangat muda bahkan belum sempat menjadi seorang ibu maupun menjadi ibu. “Dan yang harus kita ingat bahwa Kartini yang kita kenal lewat surat-suratnya adalah Kartini yang masih remaja dengan usia belasan tahun, dia pribadi yang tomboy, hobi membaca dengan jalan pemikirannya yang sangat maju, terstruktur, dan sangat modern,” paparnya.

Pemikiran-pemikiran Kartini itulah, lanjutnya, yang menjadi drive film ini, terutama perhatian khusus Kartini tentang pendidikan. Kartini percaya, bahwa untuk mengubah nasib seseorang, mengubah nasib sebuah bangsa, harus lewat pendidikan.

Sekarang, tuturnya, masalah-masalah yang diperjuangkan Kartini masih apparent dan terjadi di Indonesia. “Seperti ketimpangan gender, kedudukan perempuan masih di bawah, ketidakadilan sosial, dan berbagai masalah lain yang sudah dipikirkan Kartini beratus-ratus tahun yang lalu.” ungkap Robert.

Hal ini disambut baik oleh Hanung Bramantyo selaku sutradara film Kartini ini bahkan senada dengan visi misinya. ”Tugas kita sebagai pembuat film adalah menciptakan kembali kehidupan tokoh tersebut agar bisa dinikmati, sekaligus diresapi maknanya oleh penonton,” ujarnya.

Di film ini Hanung ingin mengajak orang melihat sebuah paparan kehidupan. “Saya menghilangkan banyak sekali dialog yang sifatnya seperti petuah. Saya ingin penonton belajar dari film ini bukan karena petuah-petuahnya tetapi dari bagaimana sikap Kartini, bagaimana aksi dari Kartini,” jelasnya.

Dalam penggarapan film Kartini inipun tokoh aktris ternama Dian Sastrowardoyo sebagai pemeran utama pastinya mengemban tugas dan tanggungjawab besar di mana ia lakukan dengan sangat serius dalam memerankan tokoh pejuang perempuan serta ikonik Indonesia yang sungguh harum namanya ini.

”Ini film periodik pertama bagi saya, sekaligus biopic pertama juga buat saya. Kesempatan ini tidak mungkin datang selama 20 atau 30 tahun, jadi saya harus mempersiapkan sungguh-sungguh, lahir dan batin, untuk menjadi Kartini,” kata Dian Sastro tentang tokoh yang dikaguminya itu.

Makanya,  dari ketika menjalani castingpun, dia bertekad untuk membaca semua tulisan-tulisan Kartini yang sudah diterbitkan dan membaca semua referensi pustaka tentang pejuang emansipasi perempuan itu. “Semakin dalam saya membaca tentang Kartini, melihat tempat tinggal Kartini, berdiskusi dengan orang-orang tentang Kartini, semakin saya merasa kagum terhadap beliau. Kenapa Kartini penting? Karena yang dia lawan adalah bagian dirinya sendiri, kekangan tradisi yang masuk dalam ruang-ruang paling domestik dalam hidupnya,” ujarnya.

Berhasilnya penggarapana film kehidupan yang apik menarik ini tentunya tak lepas dari keseriusan para pemain pendukung di film ini, seperti Acha Septriasa dan Ayushita sebagai adik Kartini, kemudian Denny Sumargo dan Reza Rahardian serta Adinia Wirasti sebagai kakak Kartini, Dwi Sasono sebagai suami Kartini, bahkan jajaran artis  senior Indonesia seperti Dedy Soetomo sebagai ayah Kartini, Djenar Maesa Ayu sebagai ibu Kartini, dan juga Christine Hakim sebagai ibu kandung Kartini pun turut menggambarkan apik nyata kehidupan seorang pejuang perempuan pada film Kartini ini. [JX/Dms]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here