Fokus Raih Laba, Uber dan Didi Chuxing Cina Merger

BEIJING, JIA XIANG – Aplikasi pemesanan taksi, Uber, setuju untuk merger dengan perusahaan pesaingnya di Cina, Didi Chuxing. Kedua perusahaan ini sepakat untuk mengembangkan bisnis transportasi itu lebih besar lagi. Uber Cina diluncurkan pada 2014 tapi sejauh itu mereka gagal meraih laba.Cheng Wei, Pendiri dan Kepala Eksekutif Didi Chuxing, mengatakan dua perusahaan itu “telah saling belajar banyak selama dua tahun ini dalam perkembangan ekonomi baru Cina”. Karena itu Persetujuan merger ini akan “membuat industri transportasi lebih sehat, jalur pertumbuhan yang lebih berkesinambungan pada tingkat lebih tinggi’.
Sebagai bagian dari perjanjian itu, Cheng Wei akan bergabung ke dalam Dewan Komisaris Uber, sedangkan Kepala Eksekutif Uber, Travis Kalanick, akan bergabung dengan Dewan Komisaris Didi.
Didi Chuxing didukung oleh perusahaan internet raksasa Cina, Tencent dan Alibaba. Didi Chuxing juga berinvestasi di perusahaan pesaing Uber di Amerika Serikat, Lyft. Selama ini Uber berjuang untuk masuk ke dalam pasar Cina, walaupun mereka sudah memiliki investor perusahaan mesin pencari di Cina, Baidu.
Pada Februari 2016, perusahaan ini merugi lebih dari sekitar Rp13 triliun per tahun di Cina, karena menghabiskan jumlah besar biaya untuk memberikan subsidi potongan tarif. Travis Kalanick mengatakan, “Sebagai seorang pengusaha, saya belajar bahwa menjadi sukses adalah mengikuti logika dan juga mendengarkan kata hati.”
Persaingan “panas” antara mereka menjadikan kedua perusahaan ini memberikan banyak subsidi untuk diskon tarif. Merger ini kemungkinan akan ada penurunan subsidi ke depannya. “Pendanaan untuk impian mereka di Cina menjadi terlalu mahal bagi Uber,” ujar Duncan Clark, Ketua Konsultan di Beijing, BDA, mengatakan kepada BBC. “Satu hal yang perlu dilihat seksama adalah seberapa cepat konsumen merasa dampaknya apabila subsidi dicabut.” [JX/Eka]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here