Google Akan Perketat Konten pada Jaringan AdSense

(Foto: JX/The Telegraph)

SAN FRANSISCO, JIA XIANG –  Alphabet Inc, Senin (14/11/16) menegaskan bahwa mereka tengah mempersiapkan kebijakan untuk mencegah website menyajikan konten yang salah dalam  menggunakan jaringan periklanan AdSense. Langkah ini bertujuan menghentikan penyebaran “berita palsu” dan jenis-jenis informasi yang salah di internet.

Rencana perubahan kebijakan itu muncul setelah Google, Facebook Inc dan Twitter Inc menghadapi reaksi atas peran mereka dalam pemilihan presiden AS, yang mengizinkan penyebaran informasi palsu dan sering berbahaya. Kondisi ini memungkinkan para pemilih terpengaruh oleh kandidat tertentu.

Masalah ini telah memicu perdebatan sengit di dalam Facebook,  terutama dengan Chief Executive Mark Zuckerberg bersikeras, dalam beberapa hari terakhir, menyebutkan bahwa situs tersebut tidak memiliki peran dalam mempengaruhi pemilu.

Google tidak pernah menangani berita palsu atau hoax yang muncul di mesin pencari Google. Yang terjadi dalam beberapa hari terakhir, ketika pencarian untuk “penghitungan akhir pemilu”, memberikan informasi palsu bagi para pencari berita  yang menyebutkan Trump telah memenangkan popular vote  atau suara populer.

Penghitungan masih berlangsung, dan kandidat Partai Demokrat, Hillary Clinton, sedikit lebih unggul.

Sementara AdSense, memungkinkan pengiklan untuk menempatkan iklan teks pada jutaan situs web yang merupakan bagian dari jaringan Google. Dan ini merupakan sumber utama uang untuk banyak penerbit.

Sebuah laporan di BuzzFeed News  bulan lalu menunjukkan bagaimana penerbit kecil di Makedonia,  yang membuat website dengan berita palsu. Isi berita-berita itu banyak yang merendahkan Hillary Clinton, dan tersebar luar di Facebook.

Sharing ini pada gilirannya menyebabkan orang untuk mengklik link yang membawa mereka ke situs-situs Macedonia, yang kemudian bisa menghasilkan uang pada lalu lintas melalui AdSense.

Facebook telah banyak disalahkan untuk memungkinkan penyebaran informasi yang salah secara online, sebagian besar pro-Trump. Namun Zuckerberg dengan tegas menolak tuduhan bahwa Facebook mempengaruhi hasil pemilu atau berita palsu adalah masalah besar pada layanannya. [JX/CNA/Eka]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here