Gotong Toa Pekong Hanya Ada di Kota Tangerang

Pintu Gerbang Utama Boen San Bio. [JX/Pandapotan Simorangkir]

“Vihara Nimmala di Kota Tangerang, Banten, tampak megah dan indah. Di balik kemegahan dan keindahannya, vihara yang juga dikenal dengan nama Kelenteng Boen San Bio ini terdapat kisah terkait sejarah orang-orang Tionghoa di Kota Tangerang, dan sejarah Kota Tangerang itu sendiri.”

Di rumah ibadah ini, selain menjadi tempat bersembahyang agama Konghucu, di kelenteng ini juga menjadi tempat ibadah agama Tao dan agama Buddha Mahayana. Kelenteng menjadi tempat bersembahyang tiga agama itu sangat terkait dengan sejarah religi di Tiongkok.

Konghucu adalah seorang guru atau orang bijak yang hidup tahun 500 Sebelum Masehi (SM). Filsuf sosial dari Tiongkok ini terkenal karena filosofinya yang mengutamakan moralitas pribadi dan pemerintahan, dan menjadi populer karena asasnya yang kuat pada sifat-sifat tradisional Tionghoa.

Karena ajarannya yang berpengaruh besar terhadap peradaban Tiongkok, membuat dia dianggap sebagai nabi oleh para pemeluk agama ini. Dalam perkembangannya, ajaran Konghucu tidak saja berkembang di daratan Tiongkok, tapi meluas ke Jepang, Korea, Vietnam bahkan hingga ke Indonesia.

Agama Konghucu masuk ke Indonesia diperkirakan terjadi setelah akhir zaman pra sejarah. Hal ini terungkap dari penelitian ahli sejarah yang menemukan benda pra sejarah seperti kapak sepatu yang terdapat di Indo China dan Indonesia. Dari hasil penemuan ini sekaligus mengungkap bahwa telah terjadi hubungan antara kerajaan-kerajaan yang terdapat di daratan Tiongkok dan Indonesia. Dalam sejarah Tiongkok kuno, pernah berdiri kerajaan di bawah Dinasti Xia. Suku bangsa dinasti ini dikenal sebagai orang Yunan, yang kemudian dalam sejarah, merupakan nenek moyang bangsa Melayu.

Agama Buddha, yang lahir di India, dalam perkembangannya juga masuk ke Tiongkok. Ajaran Buddha yang berkembang di sini adalah ajaran Mahayana. Ajaran Buddha Mahayana ini pun pada akhirnya juga berkembang di Sriwijaya, kerajaan besar di Indonesia yang tercatat dalam sejarah sebagai pusat pengembangan agama Buddha. Hal ini terungkap dari catatan perjalanan pendeta Buddha asal Tiongkok, I Tsing, ke Sriwijaya pada abad ketujuh. I Tsing bahkan pernah tinggal selama 10 tahun di Sriwijaya untuk mempelajari serta menyalin berbagai buku suci agama Buddha dari bahasa Sansakerta ke dalam bahasa China.

Kelenteng yang menjadi tempat bersembahyang tiga agama itu tidak bisa dipisahkan dari budaya Tionghoa. Maka, akan selalu menarik bila membicarakan asal usul kelenteng, termasuk sejarah Kelenteng Boen San Bio.

Menghadap Cisadane

Banyak versi cerita tentang berdirinya Vihara Boen San Bio, yang terletak di Jalan Pasar Baru, Kota Tangerang. Salah satu data yang diperoleh dari buku sejarah yang berada di perpustakaan vihara, dan beberapa narasumber di sana, vihara yang dibangun di atas sebidang tanah seluas 4.650 meter persegi itu, dahulu posisinya menghadap langsung ke Sungai Cisadane.

Namun seiring pekembangan Kota Tangerang, vihara ini tidak lagi langsung menghadap sungai yang bagian hulunya terletak di Bogor, Jawa Barat, karena terhalang oleh jalan raya dan bangunan rumah penduduk.

Vihara ini dibangun tahun 1689 oleh Lim Tau Koen, seorang pedagang asal Tiongkok. Ia membangun bangunan ini dengan sangat sederhana. Tiang penyanggah bangunannya berupa bambu. Dindingnya hanyalah gedeg (yang dibuat dari anyaman bambu), dan beratapkan daun rumbia. Setelah berdiri, Lim Tau Koen hanya menempatkan patung Kim Sin Khongco Hok Tek Tjeng Sin yang ia bawa dari Banten.

Sekitar 10 tahun lalu, umat di kelenteng itu, yang dalam bahasa Tionghoa di sebut Kong Ek, mendirikan perkumpulan bernama Perkumpulan Boen San Bio. Pada 1 Maret 1978, perkumpulan itu menjadi yayasan yang di sahkan oleh Wakil Notaris Chusu Nuduri Atmadireja atas dasar SK Menteri Kehakiman No.YA.7/19/4 Tanggal 26 Juli 1997.

Perkumpulan Boen San Bio pada mulanya dibentuk untuk mengurus serta memelihara vihara dan mewadahi kepentingan masyarakat umat Buddha, Konghucu, dan Lao Tze yang tinggal di daerah sekitar kelenteng.

Selain Kelenteng Boen San Bio, ada dua kelenteng bersejarah di Kota Tangerang yakni Kelenteng Boen Tek Bio, dan Boen Hay Bio. Tiga kelenteng ini memiliki ikatan sejarah yang erat satu dan lainnya.

Pada 1844, kelenteng Boen Tek Bio direnovasi. Selama renovasi, sejumlah patung dititipkan di Kelenteng Boen San Bio. Setelah selesai renovasi, barangbarang yang dititipkan itu di kembalikan ke Kelenteng Boen Tek Bio dengan satu prosesi yang sangat meriah tahun 1856 karena bertepatan dengan Tahun Naga. Untuk mengenang peristiwa tersebut, setiap Tahun Naga yang jatuh setiap 12 tahun sekali, selalu ada ritual gotong Toa Pekong (Jiao) diperingati dengan upacara prosesi tersebut. Dan acara ini hanya ada di Kota Tangerang.

Antara ketiga Kelenteng itu, Boen Tek Bio dengan Boen San Bio serta Boen Hay Bio terdapat sedikit perbedaan. Namun perbedaan itu bukan dari ajarannya, melainkan “tuan rumah” di masing-masing kelenteng. “Tuan rumah” di kelenteng Boen Tek Bio adalah Dewi Kwan Im Po Sat, Kelenteng Boen San Bio adalah Hok Tek Tjeng Sin (Dewa Bumi), sedangkan Boen Hay Bio adalah Kwan Seng Te Kun (Dewa dalam dunia usaha). Adanya perbedaan memberikan warna pada kehidupan manusia di muka bumi ini. [JX/ Den/W5/D9]

*) Artikel Ini dimuat di Majalah Jia Xiang Edisi X/2012

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here