Gui Bun Ong : Belajar dari Jual-Beli Uang Kuno

Jia Xiang – Bagi Gui Bun Ong atau Sugianto, lelaki kelahiran Kota Bandung, 63 tahun silam, jual beli uang kuno bukan hanya menjadi hobi. Namun telah menjadi mata pencaharian yang menghidupi keluarga dan menyekolahkan anak hingga perguruan tinggi di luar negeri.

Koleksinya ada yang berupa uang zaman penjajahan Belanda hingga penjajahan Jepang. Juga uang yang dicetak sejak Indonesia merdeka hingga masuk era reformasi. Jumlahnya ribuan lembar. Demikian juga ribuan keping uang logam di dalam mangkuk-mangkuk. Namun uang kuno itu tidaklah dipajang. ‘’Demi keamanan. Kalau ada orang yang mau lihat kami beri sample-nya saja, seperti ini,’’ tukas Gui Bun Ong sambil memperlihatkan beberapa album berisi aneka uang yang ditata menurut tahun terbit dan nilai rupiahnya.

Ayah tiga anak ini hanya mengkoleksi uang kuno Indonesia saja karena lebih banyak peminatnya. Bisa dijadikan koleksi maupun sebagai uang mahar atau hadiah. Selain itu, uang kuno Indonesia lebih aman dikoleksi. Tidak seperti uang luar negeri yang sering jadi bahan penipuan.

Gui Bun Ong mulai berjualan uang kuno sejak tahun 1971 saat masih duduk di bangku kuliah. Ketika itu ia kesulitan mendapat uang untuk biaya kuliah. Kala itu, orang yang mengkoleksi uang kuno masih sedikit. Namun entah untuk alasan apa banyak yang mencari. Hanya saja untuk mendapatkannya perlu kerja keras. Dari orang-orang ia mendengar jika uang kuno bisa menjadi ladang mencari uang karena dihargai mahal oleh para kolektor. Terdesak kebutuhan, Gui Bun Ong pun akhirnya mencoba menjadi pemburu uang kuno. Meskipun banyak kendala yang ia hadapi, namun saat uang kuno yang dimilikinya berhasil terjual, semangatnya jadi terpacu.

Kesibukannya berburu uang kuno, akhirnya menjadikan dirinya lupa dengan kegiatan perkuliahan di salah satu perguruan tinggi di Bandung. Teman-teman seangkatannya sudah banyak yang merampungkan kuliah, sedangkan ia hanya menjadi mahasiswa abadi. Patah arang di bangku kuliah, ia akhirnya berhenti dan fokuskan berbisnis. Berjualan uang kuno membuatnya banyak kenalan baru. Dia juga menjadi paham betul detail setiap uang kuno dan keasliannya. ‘’Pengalaman yang mengajarkan saya. Kalau ada yang mencoba menipu, saya bisa tahu,’’ ujarnya.

Lebih dari 40 tahun menekuni profesi ini membuat Gui Bun Ong juga melirik binis merangkai uang untuk mahar bagi yang akan menikah secara Islam. Kala itu, seorang kenalannya yang sudah lebih dahulu menekuni bisnis ini kewalahan melayani pesanan. Ia pun ditawari membantu. Secara otodidak, Gui Bun Ong kemudian mulai belajar seni merangkai uang mahar. Baik bentuk, nilai uang hingga jumlah uang yang digunakan. ‘’Dari mulut ke mulut, orang akhirnya tahu saya juga merangkai uang mahar. Selain itu saya juga rajin mengikuti pameran di berbagai tempat agar bisa mempromosikan usaha saya ini,’’ kata Gui Bun Ong, yang berhasil mengantarkan ketiga anaknya meraih gelar sarjana hingga ke perguruan tinggi di luar negeri dari bisnisnya ini. Apa yang ia dapatkan semua karena hasil kerja keras serta keseriusan yang dilandasi  ketulusan. Meskipun pesanan uang kuno seringkali membuatnya harus pusing tujuh keliling, namun kemudahan itu selalu saja datang tepat pada waktunya. Sehingga pelanggannya pun menjadi puas, atas kerja kerasnya. Kesempatan itu ia gunakan untuk memberikan penawaran tinggi kepada pelanggan. Paham atas upaya Gui Bun Ong, sang pelanggan pun dengan suka rela membayar sesuai permintaan. [Sas/V1]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here