Gunakan Membran Graphene untuk Saring Air Laur Jadi Air Minum

(Foto: JX/Ist)

LONDON, JIA XIANG – Sebuah proses yang membantu jutaan orang dengan mengubah air laut menjadi air minum, berhasil dikembangkan oleh para ilmuwan di Kota Manchester, Inggris, demikian para pakar mengumumkan, hari Senin (3/3/17).

Pusat proses pengolahan itu menggunakan bahan ajaib, graphene. Para ilmuwan pada universitas itu telah mengembangkan graphene-sebuah membran yang mampu menyaring garam.

Riset baru itu memperlihatkan hasil nyata-sebuah potensi yang menyediakan air minum bersih untuk jutaan orang yang kini berjuang untuk mendapatkan akses sumber air bersih. Penemuan baru itu pada Universitas Manchester dipublikasikan Senin, pada jurnal Nature Nanotechnology.

Menurut juru bicara universitas itu, “Pada tahun 2025 Perserikatan Bangsa-Bangsa mengharapkan bahwa 14 persen dari jumlah penduduk dunia  akan menghadapi kelangkaan air.

“Teknologi ini berpotensi menciptakan revolusi pada sistem penyaringan air di seluruh dunia. Khususnya, di beberapa negara yang tidak dapat menyediakan instalasi air bersih.” Diharapkan, graphene-sistem membran hasil oksidasi, yang tidak dapat membangun skala lebih kecil dalam membuat teknologi ini diterima di negara-negara yang tidak memiliki infrastruktur finansial dalam mendanai  instalasi air berskala besar tanpa mengkompromikan keuntungan dari hasil produksi air tersebut.”

Graphene-oksidasi membran dikembangkan pada Institut Nasional Graphene di Manchester, sudah menunjukkan potensi penyaringan terhadap partikel nano kecil, molekul organik, dan termasuk gumpalan besar garam.

Namun demikian sampai sekarang, mereka tidak dapat digunakan untuk mengayak garam biasa dalam teknologi desalinasi (proses pemisahan yang digunakan untuk mengurangi kandungan garam terlarut dari air garam sampai tingkat tertentu, sehingga air dapat digunakan), yang dibutuhkan dalam menyaring partikel lebih kecil.

Penelitian sebelumnya pada universitas itu menemukan bahwa jika dibenamkan di dalam air, graphene-oksidasi membran menjadi sedikit lebih besar,  dan garam lebih kecil mengalir melalui membran bersama dengan air, tetapi juga ion yang lebih besar atau molekul yang diblokade.

Kelompok peneliti yang bermarkas di Manchester itu sekarang mengembangkan  sistem membran dan menemukan strategi untuk menghindari tertelan oleh membran ketika direndam ke dalam air.

Ukuran pori-pori dalam membran itu dapat secara cermat di awasi, yang dapat menyaring dan memisahkan garam biasa dari dalam air dan air itu pun kemudian aman untuk diminum.

Menurut juru bicara universitas itu,”Dampak perubahan iklim berlanjut hingga mengganggu suplai air ke kota. Di kota-kota modern justru mengembangkan teknologi-teknologi desalinasi.

Profesor Rahul Nair, pada Universitas Manchester mengatakan:”Realisasi membran yang dapat berubah-ubah disesuaikan dengan ukuran pori menjadi seukuran atom, adalah langkah maju yang sangat berarti dan akan membuka peluang-peluang baru dalam meningkatkan efisiensi teknologi desalinasi.

“Ini adalah langkah pertama yang jelas-memotong eksperimen dalam rezim ini. Kita juga menunjukkan bahwa ada kemungkinan-kemungkinan realistic dalam mengukur pendekatan yang digambarkan dan memproduksi massal graphene, sesuai ukuran saringan.” [JX/Xinhua/Eka]

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here