Hargailah Setiap Berkah

(Foto: JX/tionghoa.info)

JAKARTA, JIA XIANG – Pada zaman dahulu, di Provinsi Hangzhou, Tiongkok, ada desa yang memiliki tanah subur. Sebagian besar mata pencaharian penduduk di desa itu bertani, sehingga mereka pun hidup makmur. Di desa itu terdapat seorang saudagar kaya yang bernama Han sen, dia memiliki puluhan hektar tanah persawahan.
Oleh karena keuletan dan kebaikannya, dia dikarunia hasil sawah yang berlimpah ruah. Walau kaya, Han sen tidak pernah lupa “daratan”. Dia tetap hidup bersahaja dan sangat mematuhi semua nasehat yang diberikan ayah dan ibunya.Tetapi amat disayangkan, Han sen memiliki istri, Mei su, yang sangat boros. Mungkin telah menjadi kepribadian keluarga istrinya, setiap makan nasi pasti tidak habis dan sisa nasi di piring dibuang begitu saja. Nasehat Han sen selama 2 tahun tidak pernah dihiraukan oleh istrinya, dia hanya beralasan bahwa di gudang masih banyak cadangan beras. Lagi pula, nasi yang dibuangnya cuma sedikit saja.
Para leluhur mengatakan “Tuhan tak akan memberikan berkah kepada umat yang tidak dapat menghargainya.” Tidak selamanya langit itu cerah. Pada suatu ketika sawah Han sen diserang hama wereng, akibatnya tanaman padinya rusak semua. Empat kali penanaman, semuanya gagal panen akibat wereng yang mengganas. Persediaan beras di gudang pun mulai habis. Han sen sekeluarga mulai menghemat dengan memakan bubur setiap hari, kecuali Mei Su yang tidak tahan makan bubur selama 2 minggu.
Melihat suaminya yang telah bangkrut, dia pun berencana meninggalkan suaminya. Segala alasan mulai dijadikan sebagai bahan untuk bertengkar agar berpisah. Bahkan terakhir Mei su mulai mencari masalah dengan orangtua Han sen.
Pada suatu pagi, ketika Mei Su telah siap-siap meninggalkan rumah, Han sen mengajaknya untuk mengunjungi tanah persawahan mereka sejenak. Karena ada sesuatu yang akan diperlihatkan Han sen kepada istrinya sebelum mereka berpisah. Di tengah-tengah area persawahan milik Han sen itu terdapat sebuah peternakan ayam yang luas sekali. Ribuan ekor ayam di ternak di sana untuk diambil dagingnya dan sebagian lagi diambil telurnya.
Mei su : “Peternakan siapakah ini?”
Han sen : “Peternakan ini berasal dari nasi yang kamu buang selama 2 tahun, istriku.”
Mei su : “Bagaimana mungkin? Nasi yang kubuang sedikit saja setiap hari. Bagaimana bisa menjadi peternakan ayam seluas ini?”
Han sen : “Pada mulanya saya membeli 4 ekor ayam betina dan 1 ekor ayam jantan. Kemudia ke 5 ekor ayam itu saya pelihara di belakang rumah kita dengan diberi sisa nasi yang kamu buang tiap hari. Kemudian ayam itu bertelur dan menetaskan anak ayam, sehingga ayam kita bertambah terus. Sebagian ayam kujual untuk membeli makanan mereka dan sebagian nasi yang kamu buang secara rutin kuberikan pada ayam kita. Demikianlah usaha peternakan ini saya kelola dan berkembang terus sampai hari ini.”
Melihat suaminya ternyata tidak bangkrut, Mei su ingin kembali kepada suaminya lagi. Han sen bersedia menerima istrinya kembali, tapi dengan satu syarat, yaitu BILA SEEMBER AIR SETELAH DI SIRAM KELUAR DARI RUMAH DAPAT DIKUMPULKAN KEMBALI, barulah Han sen dapat menerima istrinya kembali. Mungkinkah? Bersalahkah Han sen yang tidak bersedia menerima istrinya kembali?
Suami-istri yang baik adalah orang yang selalu bersama kita, baik dalam kesusahan maupun dalam kesenangan. Siapapun yang tetap setia bersama kita, walaupun ketika susah, HARGAILAH dan hormatilah dia sepanjang masa. Bagaimana jika orang yang hanya bersedia bersama kita di saat senang saja? Pantaskah ia dihargai dan dihormati? [JX/Tionghoa.info/Eka]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here