Hari Dokter, Hari “Bersuara”

Jia Xiang – Hari ini adalah Hari Dokter Nasional.  Bukan hal yang istimewa bagi kalangan awam. Tapi bagi para dokter, hari ini dijadikan momentum untuk terus menumbuhkan sikap mau berkorban bagi mereka yang membutuhkan pertolongan.

Bagi sebagian dokter mungkin tanggal 24 Oktober  juga dijadikan saat untuk bergerak, menggugah hati para petinggi negeri ini untuk bisa juga mendengarkan suara hati para dokter, bukan hanya memperhatikan suara buruh saja.

Apa yang para dokter ini lakukan? Sama dengan buruh yaitu berunjuk rasa. Puluhan dokter yang tergabung dalam Dokter Indoensia Bersatu berunjukrasa di depan Istana Merdeka, Jakarta Pusat. Dengan menumpang Metromini, aksi para dokter ini pun membuat  lalu lintas tesendat  di sekitar istana.

Sama dengan buruh,  dokter-dokter ini pun juga membentang spanduk, yang isinya aneka macam imbauan mulai dari politisasi bidang kesehatan, hingga tingginya biaya pendidikan kedokteran,  merevisi UU Kedokteran  dan  anggaran kesehatan dari APBN.

Bukan cuma itu,  kalau unjuk rasa buruh diwarnai dengan para orator yang “seakan-akan” fasih persoalan perburuhan, dokter pun demikian. Aksi dokter pun juga ada oratornya. Dalam aksi itu, sebenarnya mereka berusaha menyuarakan nasib para dokter terutama yang ada dipelosok daerah.

Tampaknya keprihatinan ini menuntut adanya pembenahan mengenai penempatan dan pembenahan sistem penyebaran dokter ke berbagai daerah. Bahkan perlu juga membenahi sarana medis di daerah-daerah terpencil, dan pelayanan medis yang memadai.

Tetapi bagaimana hal ini bisa menjadi perhatian, anggaran pembiayaan kesehatan saja hanya 0,6 persen dari Pendapatan Domestik Bruto (PDB), yang menurut APBN 2013 sebesar Rp 9.270 triliun. Padahal Organisasi Kesehatan Sedunia meminta setiap negara untuk mengalokasikan dana kesehatan sebesar 5 pesen dari PDB.

Kembali ke Indonesia, anggaran kesehatan yang satu persen saja tidak sampai, justru berdampak buruk bagi kegiatan lain. Karena itu, dengan anggaran kesehatan sebesar ini, membuat negara kita berada di posisi terendah di dunia.

Wajar saja apabila fasilitas dan pelayanan kesehatan di negeri ini seadanya, bahkan terkesan serba kekurangan. Akibat lebih jauh masalah kesehatan di Tanah Air tak pernah tuntas sempurna, terutama mereka yang berada di daerah-daerah.

Bayangkan saja bagaimana pelayanan kesehatan di daerag terpencil?  Ini baru sebagian kecil, yang tampak di depan mata, bagiama dengan yang lebih besar. Belum lagi bicara soal penyediaan pelayanan kesehatan bagi orang tidak mampu di kota-kota besar? Biaya rumah sakit mahal, ke dokter pun mahal, apalagi harga obat juga terkadang mahal.

Bagi mereka yang mampu, berobat saja ke negeri tetangga, murah, kualitas dokternya bagus, dan hasil pengobatannya pun luar biasa.

Tapi bagaimana bagi yang tidak mampu? Tentu ada dokter yang mau dan rela membantu, tetapi kondisi ideal itu, tidak banyak dipraktikan dokter. Jadi yang harus bertindak adalah pemerintah melalui penyediaan sarana kesehatan yang memadai dan terjangkau.

Tidak mungkin dengan anggaran kesehatan di bawah satu persen dijadikan alasan bahwa pemerintah sudah bertindak semampunya. Pemerintah masih bisa lebih, bergantung pada niat dan keseriusan saja. Kalau niat memberantas korupsi begitu besar, mengapa pembenahan pelayanan kesehatan terkesan   separuh hati? [Edwin K]

SHARE
Previous articleSalah Lagi, Salah Lagi
Next articleEnergi Positif

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here