Hiruk – Pikuk Bursa Capres-Cawapres 2014

Jia Xiang – Pemilihan Umum (Pemilu) calon presiden dan wakil presiden (Capres-Cawapres) masih akan berlangsung satu setengah tahun lagi. Namun faktanya , harapan masyarakat terhadap calon pemimpin bangsa ini mulai  terlihat jelas.

Berdasarkan  survei Lingkaran Survey Indonesia (LSI) pada   1 – 8 Maret 2013, dengan 1.200 responden seluruh provinsi Indonesia yang dilakukan dengan metode multistage random, tercatat nama-nama partai beserta calon presiden dan wakil presiden hasil poling masyarakat.

Empat  partai unggulan diantaranya yaitu Golkar (22.2%),  PDIP (18,8 %), disusul Demokrat dengan  (11.7%)  dan Partai Gerindra (7.3%). Sedangkan untuk nama-nama calon presiden muncul  nama seperti Megawati Soekarnoputri diperingkat pertama  (20.7 %),  Aburizal Bakrie (20.3 %),  Prabowo Subianto (19.2 %),  Wiranto (8,.2 %) ,  Hatta Rajasa  (6.4 %),  Ani Yudhoyono (2, 4 %),  Surya Paloh  (2,1 %).

Sementara itu, juga ada sejumlah nama calon wakil presiden yaitu, diantaranya Joko Widodo yang menduduki peringkat teratas cawapres dengan persentase nilai 35.2%, Jusuf Kalla (21.2%), Hatta Rajasa sebesar 17.1%, Mahfud MD sebesar 15.1%, Suryadharma Ali sebesar (2.9%,) Muhaimin Iskandar dengan 2.2%, dan yang terakhir Anis Matta sebesar (1.9%).

Tidak hanya itu, data LSI juga menghasilkan tiga peta koalisi dalam hiruk – pikuk pemilihan capres-cawapres. Peringkat pertama diperoleh Aburizal Bakrie-Joko Widodo sebesar 36.0%, disusul dengan pasangan Megawati-Jusuf Kalla sebesar 22.9%, dan yang terakhir yakni Prabowo Subianto –Hatta Rajasa sebesar 10.1%.

Hasil polling ini menandakan masih adanya harapan masyarakat akan pemimpin negara yang lebih baik. Terlebih lagi, kepedulian dari masyarakat ini tidak sebatas hanya pada sosok pemimpin yang berbekal popularitas saja. Adrian Sopa, peneliti LSI menuturkan kepada Jia Xiang, “ Tiga poin utama yang jadi indikator elektabilitas calon presiden, yang pertama capres harus bebas dari korupsi, harus benar – benar melayani  masyarakat, bukan sebatas pada aturan yang kaku, dan calon presiden perlu memiliki prestasi dengan bukti nyata selama masa kerjanya.”

Masyarakat masa kini butuh lebih dari sekedar figur terkenal dengan mengedepankan profesionalisme dalam memilih capres untuk pemilu 2014. Tapi kemudian Adrian menambahkan, “Popularitas juga tetap dibutuhkan, namun sekarang hal itu bukan suatu hal yang utama,”

Itu dibuktikan dari melonjaknya sejumlah nama-nama baru dalam usulan capres-cawapres di masyarakat. Seperti  nama Joko Widodo (Gubernur DKI) dan Mahfud MD, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi yang diusulkan sebagai calon wakil presiden. Aktivitas atau kinerja dua tokoh tersebut mampu menarik simpati masyarakat lewat hasil kerja mereka. Joko Widodo menjadi unggulan cawapres karena dikenal rajin “blusukan” dan dekat dengan masyarakat. “Saya ingin sosok presiden atau wakil presiden seperti Jokowi yang mau  langsung turun lapangan melihat rakyatnya yang susah” ujar Dini Al Akmalia siswi kelas X SMU Negeri 1 Jakarta yang belum memiliki hak suara untuk  mengikuti pemilihan umum.

Tidak kalah dengan Joko Widodo, nama Mahfud MD juga muncul dalam perang politik 5 tahun sekali itu. Mahfud MD dikenal sebagai pemimpin yang tegas dalam mengambil keputusan dan berpengalaman karena pernah memegang jabatan di lembaga eksekutif, legislatif, yudikatif sekaligus. [Hen/V1]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here