Hok Lay, Pelestari Wayang Potehi

Pertunjukan Wayang Potehi di Jombang (foto: JX/Sas)

“Kerajaan Tay Tong Tiauw dilanda huru-hara. Antarabdi kerajaan terjadi perang dingin agar bisa menjadi kepercayaan Kaisar Lie Liong Kie, yang bergelar Tong Beng Hong. Kaisar  pun terpengaruh dan menghukum beberapa pembantunya yang dianggap berkhianat. Di tengah huru hara itu, tampillah Kwe Tjoe Gie, pendekar yang menyelamatkan keadaan. Dia berhasil membasmi para pengkhianat, sehingga kerajaan bisa diselamatkan.”

 

Itulah ringkasan cerita yang disajikan dalang Purwanto dalam pertunjukan wayang Potehi di Kelenteng Hong San Kiong, Gudo, Jombang, Jawa Timur, Sabtu (7/12/13). Pertunjukan wayang itu bagian dari acara haul keempat KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Pertunjukan itu, mempertegas keberadaan wayang Potehi di Indonesia. Sekitar 15 tahun silam, Wayang Potehi di tanah air nyaris punah. Selain tergerus kebijakan pemerintah Orde Baru, para pegiat Potehi juga semakin terbatas. Kurangnya dalang, pemusik dan pembuat Potehi menjadi masalah utama. Belum lagi, penonton Potehi juga makin berkurang akibat terpengaruh perkembangan teknologi informasi.

Berkat kepedulian Tony Harsono atau Tok Hok Lay, putra dalang Potehi di Kelenteng Hong San Kiong Gudo Jombang, wayang Potehi hidup kembali sejak tahun 2001. “Sejak kecil saya sudah menyukai Potehi. Bahkan saya ikut memainkan dan membuatnya meskipun sembunyi-sembunyi, sebab papa saya melarang. Papa saya takut kalau saya ikut menjadi dalang seperti dia,” ujar Hok Lay kepada Jia Xiang Hometown.

Hok Lay terlahir dari keluarga pegiat Potehi. Kakek dari pihak ayahnya, bernama Tok Su Kwie adalah dalang yang membawa Potehi dari Tiongkok sekitar tahun 1800-an ke Kelenteng Hong San Kiong Gudo Jombang.

Keahliannya sebagai dalang diperoleh dari Tio Tiong Gie, ayah Hok Lay. Setiap hari dia melihat orang membuat Potehi, latihan dan pertunjukan, sehingga dia yang masih duduk di sekolah dasar itu mulai menyukainya.

“Ayah saya bilang, kalau kamu jadi dalang, nasibmu akan seperti Potehi. Saat dimainkan gagah karena perutnya tampak berisi. Namun setelah selesai, Potehi akan disampirkan dan tidak dianggap orang. Makanya, Papa tidak menginginkan anaknya jadi pemain wayang Potehi,” ungkap Hok Lay mengenang larangan sang ayah.

Meskipun bukan dalang, namun Hok Lay menjadi tokoh penting dalam melestarikan Wayang Potehi saat ini. Kebetulan saat Hok Lay mulai membuat Potehi, pemerintah Indonesia membolehkan kembali kebudayaan Tiongkok, sehingga dia pun bebas berkreasi.

Upaya pertama yang dilakukannya membuat Potehi baru. Kondisi wayang Potehi peninggalan kakeknya sudah berusia ratusan tahun, tidak mungkin lagi dimainkan. Semua Potehi peninggalan kakek direproduksi lagi seperti aslinya. Hok Lay pun berguru pada para pembuat Potehi yang sudah sepuh, baik di Kampung Dukuh Surabaya, Tulungagung maupun di Semarang, Jawa Tengah, bahkan sampai ke Tiongkok. Tidak mudah bagi dia membangkitkan kembali kejayaan wayang Potehi di Indonesia. Bahkan, perjuangannya mendapat karakter tokoh wayang sesuai dengan legenda Tiongkok penuh suka dan duka.

“Tenaga, waktu dan biaya banyak tersita. Istri sampai ngomel. Tapi karena sudah menjadi kesenangan, penasaran kalau tidak mendapatkannya,” katanya.

Saat ini Hok Lay memiliki 12 set Wayang Potehi lengkap dengan panggung, aksesoris, property lain dan musiknya. Wayang Potehi dibuatnya dari kayu waru.  Satu set potehi minimal memiliki 100 karakter. Hok Lay memperkirakan saat ini dia memiliki lebih dari 3.000 wayang Potehi, yang sering digunakan dalam pertunjukan di berbagai daerah di Indonesia. Koleksinya disimpan di Kelenteng Hong San Kiong dan di rumahnya. Bila ada pertunjukan, koleksinya dipinjamkan kepada para dalang tanpa biaya. Beberapa koleksinya lengkap dengan panggung pertunjukan, juga dia titipkan di salah satu kelenteng di Makassar, Sulawesi Selatan. Tujuannya, agar para seniman wayang Potehi tetap bersemangat melestarikan seni warisan budaya itu.

Di masa depan, Hok Lay bermimpi ribuan koleksi wayangnya bisa disaksikan di museum Potehi yang saat ini sedang dibangun di Gudo. Hok Lay juga berharap bisa menggelar pertunjukan di hadapan presiden Indonesia, di luar negeri dan seluruh Indonesia.

Bahkan dia berangan-angan memiliki mobil untuk pertunjukan keliling. “Bila mobil wayang Potehi itu ada, kita tidak perlu repot mempersiapkan pertunjukan. Cukup membuka pintunya, pertunjukan bisa langsung di mulai. Panggung, properti, lampu, mudik dan sebagainya sudah siap. Dalang tinggal memainkan cerita saja,” ungkapnya.

Kerja keras Hok Lay membangkitkan wayang Potehi tak sia-sia. Kelenteng Hong San Kiong Gudo, saat ini dikenal sebagai pusat wayang Potehi di Indonesia.  Potehi di kelenteng itu masih sangat orisinil. Bahkan Tiongkok pun tidak memiliki tokoh karakter wayang yang asli.

Sementara itu, Konsul Jenderal Amerika Sekirat di Surabaya, Joaquin Monserrate pernah mengundang wayang Potehi Kelenteng Hong San Kiong untuk tampil. Kepada Jia Xiang, Joaquin mengungkapkan, salah satu program kedutaan Amerika Serikat adalah member perhatian kepada wayang Potehi di Indonesia.

Sementara itu, Purwanto, dalang di Gudo menyatakan, sejak Hok Lay membangkitkan kembali wayang Potehi, tawaran pertunjukan terus mengalir. Baik yang dilaksanakan di kelenteng saat merayakan ulang tahun kelenteng maupun oleh berbagai perusahaan seperti hotel maupun pusat perbelanjaan.  Hal itu membantu kehidupan para pegiat wayang potehi, dan regenerasi seni wayang ini. [JX/Sas/U1]

 

8)Artikel ini dimuat di Majalah Jia Xiang Hometown, Edisi 23/2014

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here