HSBC dan PSF Intensifkan Program Edukasi Keuangan

Direktur Penelitian dan Perbankan OJK Antonius Hari (kanan) didampingi Paristianti Nurwardani, dari Kemenristek Dikti, Bambang Setiono, dari PSF, dan Nuni Sutyoko, Head of Corporate Susstainability HSBC Indonesia. (Foto: Ist./W5)

JAKARTA, JIA XIANG – Di tengah kuatnya kinerja sektor perbankan di Indonesia, ternyata masih terdapat kebutuhan yang harus segera diantisipasi, yaitu masih kurang optimalnya kualitas profesional yang menjembatani hubungan antara perbankan dengan masyarakat dan dunia usaha.

Kondisi tersebut  dicermati oleh HSBC dan Putera Sampoerna Foundation (PSF) yang mendorong keduanya berkolaborasi menggelar Program Pendidikan Perbankan dan Keuangan yang dilaksanakan Sampoerna University. Tujuannya untuk mengedukasi masyarakat di bidang literasi keuangan, khususnya dari dunia pendidikan dan dunia usaha.

Program yang digelar kali ini terdiri dari Training of Trainers yang menyasar para staf pengajar perguruan tinggi se-Indonesia dan Professional Development Program bagi profesional perbankan dan institusi keuangan lainnya, serta para pelaku UMKM di Indonesia.

Kalangan ini disasar karena profesional di industri perbankan yang mumpuni dan memiliki kompetensi tinggi masih sangat terbatas jumlahnya. Hal ini ditengarai menjadi salah satu faktor penyebab belum optimalnya dukungan layanan perbankan dalam meningkatkan kinerja dunia usaha di Indonesia, khususnya di kalangan UMKM.

Untuk memastikan bahwa pengetahuan yang diberikan yang tepat guna, komprehensif, dan aktual, PSF dan HSBC dalam penyelenggaraan program-program ini juga menggandeng Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Nasional sebagai mitra.

Rektor Sampoerna University Dr. Wahdi Yudhi berpandangan, tersedianya sumber daya manusia (SDM) berkualitas mumpuni dengan kuantitas yang mencukupi di bidang perbankan merupakan tantangan yang harus segera diantisipasi, terutama untuk mengatasi persoalan-persoalan yang kerap didorong oleh kesenjangan pengetahuan dan referensi, serta literasi keuangan yang belum mencapai tingkat yang diharapkan.

Professional Development Program dan Training of Trainers yang kami selenggarakan merupakan bagian dari mata rantai yang utuh dan saling berkaitan dari upaya kami dalam meningkatkan literasi keuangan di Indonesia,” ujarnya dalam sambutan pembukaan Program Pendidikan Perbankan dan Keuangan di Jakarta, Rabu (18/5/16).

Direktur Penelitian dan Perbankan Otoritas Jasa Keuangan  (OJK) Antonius Hari menyambut baik kolaborasi ini karena persentase penduduk Indonesia yang melek keuangan masih sangat sedikit. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh OJK pada tahun 2013, paparnya, jumlah penduduk dengan tingkat literasi keuangan baik baru mencapai 21,84%.

“Untuk itu, kami selalu menyambut baik dan mendukung program-program edukatif yang bertujuan untuk meningkatkan literasi keuangan penduduk Indonesia, seperti program yang diselenggarakan secara intensif oleh kerjasama antara HSBC dan PSF melalui Sampoerna University ini,” ujarnya.

Program ini diharapkan dapat meningkatkan literasi keuangan masyarakat sehingga mereka akan semakin mengenal manfaat dan risiko produk dan layanan jasa keuangan, mengetahui hak dan kewajiban serta meyakini bahwa produk dan layanan jasa keuangan yang dipilih dapat meningkatkan kesejahteraan.

Program literasi keuangan yang diselenggarakan Sampoerna University ini juga berkorelasi dengan rencana pemberlakuan integrasi keuangan dan perbankan di ASEAN pada tahun 2020 yang tentunya menjadi tantangan sekaligus peluang tersendiri bagi Indonesia untuk menghasilkan pemimpin-pemimpin perbankan dan keuangan yang andal serta kompetitif dalam tataran yang lebih luas dan tinggi. Ini tentunya hanya dapat direalisasikan jika masyarakat melalui ujung tombak institusi pendidikan dan pelaku ekonomi yang berada di garis depan memiliki pemahaman yang baik dan tinggi atas pemanfaatan dan penggunaan instrumen perbankan dan keuangan yang ada dan berkembang dalam perekonomian secara luas.

Nuni Sutyoko, Head of Corporate Sustainability, HSBC Indonesia, mengatakan, HSBC senantiasa mendorong bisnis yang berkesinambungan yang berarti membangun masyarakat dari segi sosial, lingkungan, dan ekonomi.

“Kami ingin terlibat dalam pertumbuhan Ekonomi di Indonesia, dan karenanya kami yakin dukungan terhadap tingkat literasi dan inklusi keuangan akan turut membangun masyarakat meningkatkan taraf perekonomian mereka. Kami percaya dengan semakin baiknya tingkat literasi keuangan akan membantu mewujudkan cita-cita untuk meningkatkan kesejahteraan pada khususnya, sekaligus membantu percepatan pembangunan ekonomi bangsa pada umumnya,” ujar Nuni.[JX/W5]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here